KoranBandung.co.id – Seorang pria paruh baya dilaporkan tewas setelah tertabrak kereta api Feeder di perlintasan rel Cimindi, Kota Cimahi, Selasa (3/6/2025) sore.
Peristiwa tragis ini terjadi sekitar pukul 14.50 WIB dan sempat menggegerkan warga sekitar yang menyaksikan langsung kejadian tersebut.
Kondisi lalu lintas di sekitar perlintasan Cimindi sempat tersendat karena proses evakuasi korban memerlukan penutupan sebagian akses jalan.
Insiden ini menambah deretan kasus kecelakaan maut yang kerap terjadi di perlintasan sebidang meski sudah dilengkapi sistem pengaman.
Dari pantauan di lokasi, korban mencoba menyeberangi rel saat palang perlintasan sudah tertutup.
Korban terlihat datang dari arah Bandung menuju Cimahi dengan berjalan kaki.
Meski sejumlah warga yang berada di sekitar perlintasan telah memperingatkan adanya kereta yang akan melintas, pria tersebut tetap menerobos jalur rel.
Menurut keterangan saksi, peringatan keras sudah disuarakan oleh warga sejak palang tertutup.
Saksi di sekitar menjelaskan bahwa saat itu ada dua kereta Feeder yang dijadwalkan melintas dalam waktu hampir bersamaan.
Satu kereta memang masih cukup jauh, namun kereta lainnya sudah sangat dekat dengan lokasi korban berada.
Saat teriakan peringatan dari warga semakin keras, korban justru tampak panik dan berlari menyeberang.
Dalam hitungan detik, tubuh korban pun tersambar kereta Feeder yang tengah melaju dengan kecepatan tinggi.
Benturan keras terjadi dan membuat tubuh korban terpental beberapa meter dari lokasi tabrakan.
Warga sekitar yang melihat kejadian itu langsung menghubungi petugas dan membantu proses evakuasi.
Tak lama berselang, tim medis datang dan membawa korban ke RSUD Cibabat untuk penanganan lebih lanjut.
Namun, berdasarkan informasi dari pihak rumah sakit, korban dinyatakan meninggal dunia sesaat setelah sampai di ruang IGD.
Identitas korban hingga saat ini belum diumumkan secara resmi oleh pihak kepolisian maupun rumah sakit.
Pihak kepolisian dari Polsek Cimahi Tengah telah mengamankan lokasi dan melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP).
Kejadian ini kembali menyoroti rendahnya kesadaran keselamatan di perlintasan sebidang, terutama dari kalangan pejalan kaki.
Meskipun palang perlintasan dan alarm peringatan sudah aktif, kasus pelanggaran terhadap rambu-rambu keselamatan masih kerap terjadi.
Di perlintasan Cimindi sendiri, kecelakaan serupa bukan kali pertama terjadi.
Wilayah ini memang dikenal memiliki arus lalu lintas padat serta aktivitas penyeberangan warga yang tinggi.
Selain itu, banyak warga yang terbiasa menerobos meski perlintasan sudah tertutup karena mengejar waktu.
Kejadian ini menjadi pengingat keras bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya petugas atau operator kereta api.***









