Bandung Raya Jadi Wilayah Termacet di Indonesia 2024, Kalahkan Jakarta dan Medan
Ilustrasi. Gemini AI

Bandung Raya Jadi Wilayah Termacet di Indonesia 2024, Kalahkan Jakarta dan Medan

Diposting pada
web otomotif bandung barat

KoranBandung.co.id – Bandung Raya resmi menyandang predikat wilayah dengan tingkat kemacetan tertinggi di Indonesia versi TomTom Traffic Index 2024.

Predikat ini menjadi sorotan karena selama ini Jakarta selalu menjadi ikon kemacetan nasional.

Namun, data terbaru menunjukkan perubahan signifikan dalam peta lalu lintas kota-kota besar di Indonesia.

Laporan yang dirilis oleh TomTom Traffic Index mencatat bahwa waktu tempuh rata-rata di kawasan Bandung Raya mencapai 32 menit 37 detik untuk setiap 10 kilometer perjalanan.

Angka tersebut menjadikan Bandung sebagai kota paling lambat dalam urusan mobilitas harian di jalan raya sepanjang tahun 2024.

Catatan ini bahkan mengungguli Medan yang berada di posisi kedua dengan 32 menit 3 detik per 10 kilometer, serta Palembang yang mencatatkan waktu 27 menit 55 detik.

Surabaya dan Jakarta menyusul di bawahnya dengan waktu tempuh rata-rata masing-masing 26 menit 59 detik dan 25 menit 31 detik.

TomTom menyusun indeks ini dengan menganalisis miliaran data GPS yang terekam dari berbagai perangkat kendaraan, ponsel pintar, serta sistem navigasi lainnya selama setahun penuh.

Proses ini dilakukan secara sistematis, memungkinkan hasil yang akurat dan merepresentasikan kondisi lalu lintas harian di tiap kota.

Baca Juga:  Wakil Wali Kota dan Anggota DPRD Bandung Jadi Tersangka! Kasus Dugaan Korupsi di Pemkot Bandung Masuki Babak Baru

Bandung Raya yang dimaksud dalam studi ini tidak hanya mencakup Kota Bandung semata, melainkan juga wilayah penyangga seperti Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Cimahi, serta akses lalu lintas menuju Sumedang.

Kepadatan lalu lintas di sejumlah koridor utama menjadi penyumbang utama tingginya indeks kemacetan di wilayah ini.

Beberapa ruas jalan seperti Tol Pasteur, Jalan Dago, Jalan Kopo, jalur Cileunyi, kawasan Lembang, serta jalur utama Cimahi menjadi titik rawan dengan intensitas kendaraan yang sangat tinggi setiap harinya.

Kondisi ini diperparah dengan pertumbuhan kendaraan pribadi yang terus meningkat dari tahun ke tahun, tanpa diiringi penambahan kapasitas jalan secara signifikan.

Selain itu, pola pergerakan warga yang masih sangat terpusat ke wilayah Kota Bandung turut menjadi penyebab tingginya mobilitas di jam-jam sibuk.

Fenomena urban sprawl atau pelebaran kawasan permukiman ke wilayah suburban juga menyebabkan lonjakan perjalanan antarwilayah yang tak dapat dihindari.

Meskipun terdapat sistem angkutan umum seperti angkot, bus kota, hingga layanan berbasis daring, ketergantungan masyarakat terhadap kendaraan pribadi masih sangat tinggi.

Banyak pengguna jalan merasa lebih fleksibel menggunakan kendaraan pribadi karena minimnya integrasi transportasi umum dan ketidakpastian jadwal perjalanan.

Baca Juga:  Truk Pengangkut Material Terperosok ke Trotoar Jalan Raya Cimareme, Arus Lalu Lintas Tersendat

TomTom Traffic Index juga mencatat bahwa tren kemacetan di Bandung cenderung meningkat dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan perlunya evaluasi serius terhadap sistem transportasi di wilayah ini.

Beberapa upaya pemerintah daerah seperti perluasan jalan, penerapan sistem satu arah, hingga pengembangan proyek transportasi publik seperti LRT Bandung Raya masih berjalan lambat.

Sejumlah pengamat transportasi menyarankan perlunya pendekatan berbasis manajemen lalu lintas modern yang menekankan pada efisiensi pergerakan dan pengendalian permintaan mobilitas.

Solusi jangka pendek seperti manajemen simpul kemacetan dan pengaturan ulang lampu lalu lintas dinilai bisa membantu mereduksi waktu tempuh, meski dampaknya belum signifikan secara keseluruhan.

Sementara itu, strategi jangka panjang seperti pembangunan transportasi massal terpadu, pembatasan kendaraan pribadi, serta pengembangan kawasan mixed use diharapkan dapat mengurangi kebutuhan mobilitas jarak jauh di masa depan.

Bandung yang dikenal sebagai kota pendidikan dan pariwisata menghadapi tantangan besar dalam menjaga kenyamanan mobilitas warganya.

Tanpa intervensi kebijakan yang konsisten dan terintegrasi, risiko stagnasi lalu lintas akan semakin parah, terutama saat akhir pekan dan libur panjang.

Baca Juga:  Warga Parongpong Geger, Bocah Perempuan Ditemukan Tak Sadarkan Diri di Area Kebun Cihanjuang Rahayu

TomTom juga mengungkapkan bahwa waktu tempuh di Bandung saat jam sibuk pagi dan sore menunjukkan perbedaan mencolok dengan rata-rata waktu normal, memperkuat indikasi bahwa kepadatan terjadi secara reguler dan sistematis.

Pemerintah Kota Bandung dan wilayah penyangga diharapkan menjadikan laporan ini sebagai cermin untuk mereformasi sistem transportasi dengan pendekatan lintas sektor dan kawasan.

Dengan predikat sebagai wilayah termacet di Indonesia, Bandung tidak hanya menghadapi tantangan dalam hal kenyamanan berkendara, tetapi juga potensi penurunan produktivitas, kualitas udara, serta kesejahteraan masyarakat secara umum.***

Gambar Gravatar
Seorang writer di bidang jurnalis dan blogger. Sudah aktif menulis di media Indonesia sejak tahun 2016.