KoranBandung.co.id – Ketegangan terjadi di Bandung Zoo pada Rabu malam saat serikat pekerja menghadang vendor keamanan Red Guard yang dianggap tidak memiliki kontrak dengan pihak yayasan pengelola.
Insiden ini melibatkan sekitar 80 orang karyawan yang tergabung dalam Serikat Pekerja Mandiri Derenten (SPMD) dan vendor keamanan Red Guard yang dikontrak oleh Taman Safari Indonesia (TSI).
Kejadian berlangsung di sekitar area ruang keuangan kebun binatang, yang menjadi pusat konflik dalam upaya pengamanan aset yayasan.
Situasi memanas sekira pukul 23.30 WIB, ketika para karyawan mengambil langkah inisiatif untuk mengamankan ruang keuangan Bandung Zoo.
Mereka menilai kehadiran personel Red Guard tidak sah karena tidak memiliki kontrak kerja langsung dengan Yayasan Margasatwa Tamansari (YMT) sebagai pengelola resmi kebun binatang tersebut.
Aksi pengamanan yang semula berlangsung tertib berubah menjadi adu dorong antara pihak serikat pekerja dengan Red Guard.
Beberapa karyawan perempuan bahkan berteriak histeris saat suasana semakin tidak terkendali di tengah gelapnya malam.
Puncak ketegangan terjadi ketika Gantira Bratakusuma, pembina YMT, terlihat mengambil kendali dan memerintahkan agar seluruh kunci di lingkungan kantor, termasuk ruang keuangan, diganti segera.
Gantira menyampaikan seruan keras kepada para anggota Red Guard agar mundur, menegaskan bahwa dirinya adalah pihak yang sah secara struktural dalam pengelolaan lembaga tersebut.
Dalam peristiwa tersebut, Gantira mengalami luka ringan di bagian dahi akibat tersikut oleh salah satu personel Red Guard yang berada di lokasi.
Meskipun insiden itu tidak menimbulkan luka serius, ketegangan psikologis yang terjadi cukup tinggi, terutama bagi karyawan yang merasa berada dalam situasi rawan secara fisik dan administratif.
Menurut pantauan di lapangan hingga Kamis pagi, puluhan anggota SPMD masih berjaga di sekitar ruang keuangan sebagai bentuk antisipasi terhadap kemungkinan upaya pengambilalihan ruang tersebut oleh pihak luar.
Ketua SPMD, Yaya Suhaya, tampak hadir langsung memantau situasi dan memberikan dukungan moral kepada anggota serikat pekerja yang tetap siaga sepanjang malam.
Para pengurus serikat lainnya pun terlihat ikut mengoordinasikan sistem penjagaan bergiliran untuk memastikan tidak ada intervensi pihak ketiga terhadap ruang vital yayasan.
Keberadaan Red Guard di area Bandung Zoo diketahui merupakan bagian dari sistem pengamanan yang dipasang oleh TSI, yang saat ini berada dalam posisi kemitraan dengan pihak pengelola.
Namun, para karyawan menegaskan bahwa kontrak kerja Red Guard tidak ditandatangani oleh YMT, sehingga keberadaan mereka dianggap tidak sah dan tidak memiliki kewenangan dalam pengelolaan keamanan aset internal yayasan.
Sumber internal menyebut bahwa konflik ini telah dipicu oleh ketidakjelasan status pengelolaan dan tanggung jawab antara YMT dan TSI sejak beberapa waktu terakhir.
Belum adanya penegasan hukum atau mediasi formal dari instansi terkait membuat situasi internal menjadi semakin kompleks dan rentan memicu gesekan.
Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak Red Guard maupun TSI mengenai insiden yang terjadi pada malam tersebut.
Namun, sejumlah karyawan berharap agar pemerintah daerah maupun lembaga terkait seperti Disnaker atau kepolisian dapat segera turun tangan untuk memediasi konflik agar tidak berlarut.***









