KoranBandung.co.id – Fenomena meningkatnya jumlah pengunjung pusat perbelanjaan mulai memunculkan berbagai reaksi, salah satunya datang dari para pedagang yang menciptakan istilah Rojali, Rohana, dan Rocita.
Kembalinya aktivitas masyarakat di pusat perbelanjaan sejak pandemi mereda membawa angin segar bagi industri ritel, meskipun tak sepenuhnya berdampak pada penjualan langsung.
Banyak tenant atau pemilik toko mengeluhkan meningkatnya jumlah pengunjung yang hanya datang untuk melihat-lihat tanpa melakukan pembelian di tempat.
Alih-alih mengkritik secara langsung, sebagian pedagang menggunakan singkatan yang bernada sindiran untuk menyebut tipe-tipe pengunjung tersebut.
Istilah Rojali merupakan kependekan dari “rombongan jarang beli”, Rohana berarti “rombongan hanya nanya”, dan Rocita mengacu pada “rombongan cuci mata”.
Ketiga istilah ini mencuat di media sosial dan memicu diskusi hangat di kalangan warganet karena dianggap sebagai bentuk keluhan tidak langsung dari pelaku usaha terhadap perilaku konsumen.
Dari pengamatan di berbagai pusat perbelanjaan di kota besar, terlihat bahwa keramaian pengunjung memang meningkat signifikan pada akhir pekan maupun hari libur.
Namun, berdasarkan penuturan para pedagang yang ditemui secara langsung, jumlah transaksi nyata masih belum menunjukkan pertumbuhan yang proporsional.
Fenomena ini kemudian memunculkan semacam frasa internal di kalangan pelaku usaha ritel sebagai bentuk ungkapan frustasi yang dibalut dengan candaan.
Sebutan Rojali digunakan ketika melihat sekelompok pengunjung yang datang beramai-ramai namun tidak terlihat melakukan transaksi di dalam toko.
Sedangkan Rohana kerap disematkan pada pengunjung yang tampak antusias bertanya tentang produk, harga, hingga fitur barang, tetapi tak kunjung melakukan pembelian.
Sementara itu, Rocita merujuk pada mereka yang terlihat hanya sekadar melihat-lihat koleksi terbaru atau desain toko tanpa niat untuk membeli.
Meskipun awalnya bersifat internal, istilah-istilah ini mulai menyebar luas melalui media sosial dan menuai pro dan kontra dari masyarakat.
Sebagian warganet menilai bahwa sebutan-sebutan tersebut tidak etis dan dapat menyinggung pengunjung yang memiliki keterbatasan finansial atau sekadar ingin mendapatkan referensi sebelum membeli secara daring.
Banyak juga yang menyoroti bahwa perubahan perilaku konsumen saat ini dipengaruhi oleh tren belanja online, di mana sebagian orang lebih nyaman bertransaksi melalui e-commerce setelah melihat produk secara langsung di toko fisik.
Kondisi ini dikenal dengan istilah showrooming, yaitu strategi berbelanja dengan melihat barang secara langsung sebelum membelinya melalui kanal online karena alasan harga yang lebih murah atau adanya promo tertentu.
Salah satu pengunjung mall yang sempat diwawancarai mengatakan bahwa ia kerap datang ke pusat perbelanjaan untuk melihat ukuran, warna, dan kenyamanan produk sebelum membelinya secara online dengan voucher diskon.
Hal ini dinilai sah-sah saja oleh banyak konsumen, terlebih jika layanan yang tersedia di toko online lebih menguntungkan dibandingkan dengan harga di toko fisik.
Sementara itu, pelaku usaha ritel merasa dirugikan karena biaya operasional mereka di pusat perbelanjaan cukup tinggi, namun tingkat konversi penjualan tidak sebanding dengan jumlah pengunjung yang datang.
Hal ini semakin diperparah dengan tren window shopping yang menjadi kebiasaan baru di kalangan anak muda yang lebih mementingkan pengalaman berbelanja ketimbang membeli barang.
Meski begitu, beberapa pengelola toko mengakui bahwa kehadiran pengunjung—meskipun tidak langsung bertransaksi—masih memberikan nilai tambah dari sisi eksposur dan potensi pemasaran mulut ke mulut.
Di sisi lain, tidak semua pedagang merasa terganggu dengan istilah Rojali, Rohana, dan Rocita.
Sebagian justru menganggapnya sebagai bentuk kreativitas dalam menghadapi tantangan bisnis retail yang kian kompleks.
Namun, penting bagi pelaku usaha untuk tetap menjaga etika komunikasi agar tidak menyinggung calon pembeli yang pada dasarnya memiliki hak untuk mengeksplorasi produk tanpa kewajiban membeli.
Selain itu, diperlukan adaptasi strategi penjualan yang lebih inovatif, seperti integrasi antara toko fisik dan platform digital, agar potensi showrooming tetap berujung pada transaksi yang menguntungkan.
Penggunaan teknologi seperti scan QR untuk pembelian online langsung dari etalase toko bisa menjadi solusi untuk mengakomodasi perilaku konsumen kekinian.
Melihat dinamika ini, istilah Rojali, Rohana, dan Rocita sebaiknya tidak hanya dijadikan bahan sindiran, tetapi dijadikan sinyal bahwa model bisnis retail harus bertransformasi mengikuti kebiasaan konsumen yang terus berubah.
Pengelola pusat perbelanjaan juga dapat memfasilitasi tenant dengan strategi promosi lintas kanal agar pengunjung tetap merasa dihargai, sekalipun belum melakukan pembelian langsung.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hubungan antara konsumen dan pelaku usaha memerlukan pendekatan yang lebih empatik dan solutif, bukan hanya mengandalkan istilah satir yang justru bisa menciptakan jarak emosional.
Pada akhirnya, memahami motivasi pengunjung dan menyesuaikan strategi penjualan adalah kunci untuk menjaga keberlangsungan bisnis di tengah persaingan yang semakin ketat dan kompleks.***









