Termasuk Bandung, Udara Dingin Menyelimuti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, BMKG Ungkap Penyebab dan Imbau Kewaspadaan
Udara dingin melanda wilayah Jawa dan Bali pada pagi hari akibat angin timur Australia. (Sumber: BMKG.go.id)

Termasuk Bandung! Udara Dingin Menyelimuti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, BMKG Ungkap Penyebab dan Imbau Kewaspadaan

Diposting pada
web otomotif bandung barat

KoranBandung.co.id – Fenomena udara dingin yang mencengkeram wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara sejak awal Juli 2025 menarik perhatian masyarakat luas.

Setiap subuh dan malam, suhu terasa lebih rendah dari biasanya, menimbulkan rasa menggigil yang dikenal masyarakat sebagai bediding.

Fenomena ini menjadi pembicaraan hangat di media sosial karena kontras dengan ekspektasi terhadap musim kemarau yang biasanya kering dan panas.

Meskipun kerap dikaitkan dengan fenomena aphelion, yakni saat Bumi berada di titik terjauhnya dari matahari, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan berbeda yang lebih kompleks.

Menurut penjabaran BMKG, suhu dingin yang mencolok pada musim kemarau kali ini lebih dipengaruhi oleh beberapa faktor meteorologis, bukan semata-mata karena posisi Bumi terhadap matahari.

Angin timur kering dari Australia yang saat ini sedang dominan menjadi penyebab utama turunnya suhu di permukaan wilayah Indonesia bagian selatan.

Angin tersebut membawa massa udara dingin dari daratan Australia menuju wilayah Indonesia, terutama kawasan yang berada di sekitar ekuator seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara.

Baca Juga:  Pemotor Ugal-ugalan dan Bawa Sajam di Baleendah Bandung, Kapolsek Langsung Buru Pelaku

Selain itu, langit cerah tanpa awan yang umum terjadi di musim kemarau turut memperparah efek pendinginan ini, terutama pada malam hingga pagi hari.

Tanpa keberadaan awan, panas yang diserap permukaan bumi pada siang hari cepat dilepaskan ke atmosfer saat malam, menyebabkan suhu turun drastis menjelang subuh.

Dalam beberapa wilayah, seperti dataran tinggi di Jawa Timur dan Nusa Tenggara Timur, suhu bahkan bisa menyentuh angka belasan derajat Celcius pada dini hari.

Menariknya, meski sudah memasuki puncak musim kemarau, BMKG mengamati masih adanya aktivitas hujan yang terjadi secara anomali di sejumlah daerah.

Hujan ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi membawa serta massa udara dingin yang memperkuat fenomena bediding di permukaan tanah.

Kombinasi dari angin kering, pelepasan panas yang cepat, dan keberadaan hujan sisa musim sebelumnya menciptakan suasana yang menusuk dingin namun sekaligus lembap di beberapa lokasi.

Fenomena ini bukan hanya berdampak pada kenyamanan masyarakat, tetapi juga menimbulkan konsekuensi terhadap aktivitas harian dan kesehatan publik.

Baca Juga:  Banjir Limpasan Menerjang Jalan Salabintana Sukabumi, Gerobak Terbawa Arus! Motor Hampir Terseret

Warga di wilayah pedesaan dan pegunungan mengeluhkan penurunan suhu yang signifikan, terutama mereka yang beraktivitas di luar ruangan sejak subuh.

Pakaian hangat menjadi kebutuhan mendesak, dan kasus penyakit seperti flu, batuk, hingga infeksi saluran pernapasan atas mulai meningkat di beberapa pusat layanan kesehatan.

BMKG juga memberikan peringatan bahwa meski suhu udara terasa dingin, potensi cuaca ekstrem justru meningkat dalam kurun waktu Juli hingga Oktober 2025.

Perubahan cuaca yang cepat, hujan lebat disertai angin kencang dan petir, masih mungkin terjadi secara sporadis di beberapa wilayah Indonesia.

Hal ini menandakan bahwa musim kemarau 2025 tidak serta merta identik dengan kering dan panas seperti tahun-tahun sebelumnya.

Masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan, khususnya mereka yang tinggal di wilayah rawan bencana seperti lereng gunung, daerah aliran sungai, dan kawasan rendah yang rawan banjir.

Meskipun curah hujan secara umum menurun, hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat tetap dapat memicu banjir bandang maupun tanah longsor.

Baca Juga:  Kebakaran Terjadi di Cisaranten Wetan Kecamatan Cinambo Bandung

BMKG merekomendasikan agar masyarakat rutin memantau perkembangan cuaca melalui kanal resmi seperti aplikasi Info BMKG, situs web, dan media sosial resmi mereka.

Langkah ini dianggap penting untuk mengantisipasi potensi bencana serta mengatur aktivitas harian agar tidak terganggu perubahan cuaca yang ekstrem.

Secara umum, fenomena bediding bukan hal baru di Indonesia, namun kekuatannya yang mencolok tahun ini menunjukkan adanya dinamika atmosfer yang cukup kompleks.

***

Gambar Gravatar
Seorang writer di bidang jurnalis dan blogger. Sudah aktif menulis di media Indonesia sejak tahun 2016.