KoranBandung.co.id – Kematian tragis pengemudi ojek online (ojol) bernama Affan Kurniawan di Pejompongan, Jakarta Pusat, akhirnya memunculkan fakta baru dari kesaksian rekan sesama ojol.
Peristiwa ini menyedot perhatian publik karena awalnya dikira korban merupakan bagian dari massa aksi.
Namun, informasi terbaru justru mengungkapkan bahwa Affan sedang menjalankan pekerjaannya mengantarkan pesanan makanan ketika insiden maut itu terjadi.
Kesaksian itu datang dari Hafidz, teman satu profesi Affan, yang berada di sekitar lokasi pada detik-detik terjadinya peristiwa memilukan tersebut.
Menurut pengakuan Hafidz, Affan bukanlah peserta aksi unjuk rasa yang berlangsung pada hari itu.
Affan disebut hanya melintas di jalanan Pejompongan untuk menunaikan tugasnya sebagai mitra aplikasi pesan antar makanan.
Ketika hendak menyeberang, nasib malang menimpa dirinya karena rantis Brimob yang melaju justru melindas tubuhnya.
Beban keras dengan mobil barracuda itu membuat Affan mengalami luka serius yang tidak bisa tertolong.
Ia akhirnya menghembuskan napas terakhirnya saat dalam perjalanan menuju rumah sakit terdekat.
Hafidz yang menyaksikan peristiwa itu menuturkan bahwa beberapa menit sebelumnya mereka sempat berbincang ringan di pangkalan.
Saat itu, Affan baru saja menerima pesanan dari aplikasi dan berpamitan untuk segera mengantarkan makanan.
Tidak ada tanda-tanda bahwa itu akan menjadi pertemuan terakhir antara dua sahabat sesama ojol tersebut.
Hafidz masih mengingat jelas momen ketika Affan melintas dan berusaha menyeberang sebelum rantis Brimob menghantam.
Kesaksian Hafidz ini mempertegas bahwa Affan adalah korban situasi, bukan bagian dari massa aksi yang kerap dicurigai aparat ketika terjadi demonstrasi.
Peristiwa ini juga menimbulkan duka mendalam di kalangan pengemudi ojol yang mengenal Affan.
Bagi mereka, Affan dikenal sebagai sosok pekerja keras yang gigih menafkahi keluarganya melalui profesi sebagai pengemudi ojol.
Kematian tragis ini menjadi pengingat bahwa profesi ojol memiliki risiko besar di jalanan, tidak hanya karena kecelakaan lalu lintas biasa, tetapi juga karena situasi sosial yang bisa mengancam keselamatan.
Sejumlah komunitas ojol kemudian menyuarakan keprihatinannya di media sosial.
Mereka menegaskan bahwa kasus Affan harus menjadi perhatian serius pihak berwenang untuk menjamin keamanan pekerja transportasi daring di lapangan.
Dalam berbagai unggahan, dukungan moral juga mengalir untuk keluarga korban.
Masyarakat luas merasa kehilangan dan ikut merasakan kesedihan atas meninggalnya Affan dalam situasi yang tidak seharusnya terjadi.
Pihak kepolisian hingga kini masih diminta memberi penjelasan resmi terkait detail insiden tersebut.
Publik menilai penting adanya kejelasan agar kasus ini tidak menimbulkan spekulasi yang bisa memicu ketidakpercayaan pada aparat.
Selain itu, desakan juga muncul agar evaluasi penggunaan kendaraan taktis dalam pengamanan massa diperketat.
Hal ini dinilai penting agar tidak lagi menimbulkan korban jiwa di luar kelompok yang sebenarnya tidak terlibat dalam aksi.
Kematian Affan menjadi simbol nyata bahwa keselamatan warga sipil harus menjadi prioritas di tengah dinamika sosial dan politik.
Masyarakat berharap peristiwa serupa tidak terulang dan aparat dapat lebih berhati-hati dalam menjalankan tugas pengamanan di jalanan umum.
Affan kini telah tiada, namun kisahnya akan terus dikenang oleh rekan-rekan ojol yang sering berbagi waktu bersamanya di pangkalan.
Sementara itu, Hafidz dan para pengemudi lain bertekad melanjutkan perjuangan mencari nafkah di jalan, dengan doa agar sahabat mereka mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.
Kisah ini menjadi pengingat keras bahwa di balik hiruk pikuk demonstrasi, ada warga sipil yang hanya ingin bekerja, namun harus kehilangan nyawa karena situasi yang tidak bisa dikendalikan.
Publik menantikan langkah konkret dari pihak berwenang untuk memastikan keadilan dan perlindungan bagi para pekerja lapangan seperti Affan.***








