KoranBandung.co.id – Sebuah insiden kerusakan jembatan terjadi di wilayah Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, yang berdampak langsung pada akses transportasi tiga desa.
Kejadian ini menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat yang selama ini menggantungkan mobilitas harian melalui jalur tersebut.
Insiden terjadi pada Jumat dini hari, 1 Agustus 2025 sekitar pukul 03.00 WIB, dan langsung mendapat perhatian dari pemerintah desa setempat.
Jembatan yang menjadi penghubung antara Desa Sukatani di Kecamatan Ngamprah dengan Desa Kertamulya dan Desa Kertajaya di wilayah Kecamatan Padalarang dilaporkan mengalami kerusakan cukup serius.
Kerusakan tersebut disebabkan oleh robohnya beberapa penyangga tiang yang selama ini menopang konstruksi utama jembatan.
Akibat dari insiden ini, akses kendaraan terutama roda empat dari dan menuju ke kawasan Cihaliwung, Hegarmanah, dan Talang untuk sementara ditutup.
Pemerintah Desa Sukatani merespons cepat dengan melakukan peninjauan lokasi dan mengeluarkan imbauan resmi kepada masyarakat.
Kepala Desa Sukatani, Dede Supriadi, menjelaskan bahwa penutupan dilakukan sebagai bentuk langkah preventif demi keselamatan warga.
Ia menyampaikan bahwa kondisi jembatan saat ini tidak memungkinkan untuk dilalui kendaraan berat, apalagi roda empat.
Dede juga menuturkan bahwa sebagian besar badan jembatan masih terlihat kokoh, namun titik-titik penyangga yang roboh menjadi titik rawan yang dapat membahayakan pengguna jalan.
Langkah cepat juga dilakukan dengan memasang pembatas jalan dan papan peringatan agar warga tidak melintas di atas jembatan tersebut hingga ada perbaikan menyeluruh.
Ia menekankan pentingnya kolaborasi antar-pemerintah desa untuk mempercepat proses perbaikan demi kepentingan bersama.
Pemerintah Desa Sukatani, lanjut Dede, telah mengajak pihak Desa Kertamulya dan Desa Kertajaya untuk bersinergi dalam upaya pemulihan jembatan.
Dukungan ini mencakup koordinasi teknis maupun penggalangan anggaran yang nantinya akan digunakan untuk pembangunan ulang atau perkuatan struktur jembatan.
Kondisi geografis wilayah yang dihubungkan oleh jembatan tersebut memiliki mobilitas cukup tinggi, khususnya untuk kegiatan ekonomi warga antar desa.
Dengan tertutupnya akses ini, sejumlah aktivitas warga, termasuk distribusi hasil pertanian dan logistik UMKM, turut terdampak.***









