KoranBandung.co.id – Aparat kepolisian di Jawa Barat telah mengamankan 65 orang yang terlibat dalam aksi demo solidaritas ojol dan mahasiswa yang berubah ricuh di Kota Bandung.
Aksi ini berlangsung pada Sabtu, 30 Agustus, dengan titik konsentrasi di Gedung Sate dan DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung.
Penangkapan para pelaku kericuhan dikonfirmasi langsung oleh pihak kepolisian pada Minggu, 31 Agustus, setelah situasi kembali terkendali.
Awalnya, unjuk rasa yang digelar untuk menyuarakan aspirasi para pengemudi ojek online dan mahasiswa berlangsung dalam suasana damai.
Namun, keadaan berubah ketika sekelompok peserta aksi membawa bom molotov buatan yang dinilai membahayakan keselamatan masyarakat dan aparat yang bertugas.
Tindakan anarkis itu memicu aparat kepolisian mengambil langkah tegas guna mencegah meluasnya potensi kerusuhan.
Dari total 65 orang yang diamankan, sebanyak 31 orang ditangkap di area DPRD Jawa Barat.
Sementara itu, 34 orang lainnya diamankan di sekitar Gedung Sate yang menjadi salah satu pusat perhatian dalam aksi tersebut.
Pihak kepolisian menegaskan bahwa mereka yang ditahan bukan hanya dari kalangan dewasa, tetapi juga terdapat beberapa anak di bawah umur.
Di antaranya adalah tiga remaja berinisial AA (17), RR (17), dan AA (15) yang kedapatan ikut terlibat dalam tindakan merusak dan membawa benda berbahaya.
Kepolisian menilai keterlibatan anak di bawah umur dalam aksi ini menjadi perhatian khusus, karena menandakan adanya upaya memanfaatkan remaja untuk kepentingan kelompok tertentu.
Kabid Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menegaskan bahwa penahanan tersebut merupakan bagian dari penegakan hukum terhadap tindakan yang membahayakan ketertiban umum.
Ia juga menambahkan bahwa penggunaan bom molotov buatan dalam aksi demonstrasi tidak hanya melanggar aturan, tetapi juga berpotensi menimbulkan korban jiwa.
Saat ini, aparat masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut terhadap para pelaku yang diamankan.
Proses penyelidikan difokuskan pada asal-usul bahan peledak rakitan tersebut dan jaringan yang diduga menggerakkan massa untuk melakukan kericuhan.
Kepolisian juga berkomitmen untuk menindaklanjuti kasus ini hingga ke proses peradilan agar para pelaku mendapat pertanggungjawaban hukum yang jelas.
Selain itu, polisi berkoordinasi dengan pihak terkait untuk memberikan pendampingan hukum khusus bagi anak di bawah umur yang ikut ditahan.
Pengamanan demonstrasi ini juga menjadi perhatian serius bagi aparat mengingat Gedung Sate merupakan pusat pemerintahan Jawa Barat.
Kerusuhan di lokasi tersebut dikhawatirkan dapat mengganggu stabilitas keamanan daerah dan menghambat aktivitas pelayanan publik.
Masyarakat di sekitar lokasi aksi turut terdampak akibat kericuhan yang terjadi.
Beberapa pedagang kaki lima mengaku harus menutup lapak lebih awal karena khawatir dengan kondisi yang tidak kondusif.
Sementara itu, pengguna jalan yang melintas di kawasan Jalan Diponegoro mengalami kemacetan cukup panjang akibat adanya pengalihan arus lalu lintas.
Polda Jawa Barat menegaskan akan terus meningkatkan pengamanan di titik-titik strategis untuk mencegah aksi susulan yang berpotensi mengganggu ketertiban umum.
Kepolisian juga mengimbau masyarakat agar tetap menyampaikan aspirasi secara damai sesuai aturan yang berlaku tanpa harus merugikan pihak lain.
Para pengemudi ojek online yang hadir dalam aksi tersebut sebagian besar mengaku kecewa dengan adanya kelompok yang berbuat anarkis.
Mereka menilai tindakan segelintir orang justru merusak tujuan utama aksi yang ingin menyampaikan aspirasi terkait kebijakan transportasi.
Kalangan mahasiswa yang ikut bergabung dalam demonstrasi juga berharap aparat bisa membedakan antara peserta aksi yang tertib dan mereka yang melakukan kerusuhan.***









