KoranBandung.co.id – Rumah Menteri Keuangan Sri Mulyani di kawasan Mandar, Bintaro Sektor 3A, Tangerang Selatan, dijarah massa pada Minggu (31/8/2025) dini hari.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 01.40 WIB saat sekelompok orang mendobrak masuk ke kediaman pribadi Sri Mulyani.
Massa membawa sejumlah barang berharga dari dalam rumah sebagai bentuk pelampiasan kekecewaan terhadap kondisi ekonomi Indonesia.
Kejadian ini tidak berdiri sendiri karena sebelumnya rumah beberapa pejabat dan tokoh publik juga menjadi sasaran kemarahan warga.
Rumah anggota DPR Ahmad Sahroni, Eko Patrio, hingga kediaman publik figur Uya Kuya lebih dulu dirusak dan dijarah.
Fenomena ini memunculkan keprihatinan mendalam karena eskalasi protes masyarakat kini sudah merambah ke aksi anarkis di kawasan perumahan elit.
Masyarakat yang terlibat dalam aksi penjarahan disebut tidak lagi mampu menahan rasa frustrasi atas ketimpangan sosial.
Kekecewaan itu salah satunya dipicu oleh kabar mengenai tunjangan dan gaji DPR yang bisa menembus angka Rp100 juta per bulan.
Publik semakin marah karena kebijakan tunjangan fantastis tersebut justru disebut-sebut dipengaruhi langsung oleh Kementerian Keuangan.
Nama Sri Mulyani pun terseret karena didiuga dianggap memiliki peran dalam menyetujui dan mengatur mekanisme pemberian tunjangan.
Selain isu tunjangan DPR, kebijakan kenaikan pajak di berbagai sektor juga menjadi sorotan masyarakat.
Kritik tajam muncul karena kebijakan pajak bahkan menyasar usaha kecil menengah atau UMKM yang kini sedang berjuang bertahan.
Situasi ini dinilai ironis karena perekonomian nasional yang cenderung kurang baik, namun beban pajak justru semakin diperluas.
Langkah pemerintah yang memperketat pungutan pajak dipandang tidak sejalan dengan kondisi lapangan masyarakat kecil.
Di sisi lain, masyarakat menilai pejabat negara justru tetap menikmati fasilitas dan gaji besar di tengah krisis.
Peristiwa ini memberikan pesan keras kepada pemerintah bahwa kebijakan ekonomi tidak bisa diputuskan tanpa mempertimbangkan daya tahan rakyat.
Rumah Sri Mulyani yang dijarah massa bukan hanya menjadi simbol kerugian pribadi, tetapi juga cermin krisis kepercayaan publik.
Masyarakat menunggu jawaban nyata dari pemerintah, bukan sekadar pernyataan formal yang menenangkan situasi.
Jika hal ini dibiarkan tanpa solusi, ketidakpuasan sosial bisa berkembang menjadi gelombang protes yang lebih besar.
Oleh karena itu, peristiwa di Bintaro seharusnya menjadi alarm keras bagi pemerintah dalam mengelola kebijakan fiskal.
Keseimbangan antara kepentingan negara dan keberlangsungan hidup rakyat harus benar-benar dijaga.
Tanpa perubahan sikap, jurang ketidakpercayaan publik terhadap pemerintah hanya akan semakin lebar.***









