KoranBandung.co.id – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Barat mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Sesar Lembang.
Imbauan ini muncul setelah BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Bandung merilis data terbaru terkait aktivitas kegempaan di wilayah tersebut.
Sejak akhir Juli hingga Agustus 2025, tercatat sudah enam kali aktivitas gempa dengan pusat di sekitar segmen Cimeta dan Cipogor.
BPBD Bandung Barat menjelaskan bahwa dominasi aktivitas tektonik terpantau di sepanjang jalur sesar yang melintas dari Ngamprah hingga Cisarua.
Berdasarkan pemodelan BMKG, skenario terburuk berupa gempa bermagnitudo M5,5 berpotensi mengguncang wilayah Bandung Barat dengan intensitas V–VI MMI.
Intensitas tersebut dikategorikan mampu menimbulkan kerusakan ringan hingga sedang pada bangunan, terutama yang tidak memenuhi standar tahan gempa.
BPBD menekankan agar masyarakat tetap tenang, namun tidak mengabaikan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan.
Imbauan ini menjadi penting mengingat kawasan sekitar Sesar Lembang dikenal padat penduduk dan memiliki banyak infrastruktur vital.
Wilayah yang dilalui segmen Cimeta dan Cipogor mencakup kawasan permukiman padat, fasilitas pendidikan, serta jalur wisata yang ramai dikunjungi wisatawan.
Sejarah mencatat, aktivitas Sesar Lembang pernah menimbulkan guncangan signifikan yang dirasakan hingga wilayah Kota Bandung.
BMKG dalam beberapa kesempatan sebelumnya telah mengingatkan bahwa Sesar Lembang termasuk dalam kategori sesar aktif dengan potensi pergerakan sewaktu-waktu.
Kondisi ini membuat setiap aktivitas kecil sekalipun patut dipantau karena dapat menjadi indikator adanya akumulasi energi di bawah permukaan.
Selain itu, struktur geologi di sekitar Bandung Barat yang didominasi oleh tanah vulkanik muda juga dapat memperbesar efek guncangan.
BPBD Bandung Barat menegaskan pentingnya kesiapsiagaan masyarakat, termasuk memahami jalur evakuasi dan lokasi titik kumpul aman.
Upaya mitigasi sejak dini dinilai dapat meminimalkan risiko korban jiwa maupun kerugian materiil jika terjadi gempa berskala lebih besar.
Pemerintah daerah melalui BPBD juga terus berkoordinasi dengan BMKG untuk memperbarui informasi terkini terkait pergerakan sesar.
Selain itu, edukasi masyarakat dilakukan secara berkelanjutan melalui sosialisasi di sekolah, pertemuan warga, hingga pelatihan simulasi bencana.
Langkah ini bertujuan agar masyarakat tidak hanya mengandalkan informasi saat bencana terjadi, tetapi juga siap menghadapi skenario terburuk.***









