KoranBandung.co.id – Kabar duka menyelimuti dunia musik Indonesia setelah maestro legendaris Acil Bimbo berpulang pada Senin (1/9/2025) malam.
Musisi senior dengan nama lengkap Raden Darmawan Dajat Hardjakusumah itu menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung pada pukul 22.13 WIB.
Kabar wafatnya disampaikan oleh cucunya, aktris sekaligus mantan anggota JKT48, Adhisty Zara, melalui unggahan di akun Instagram pribadinya.
Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Biologi Nomor 4, Bandung, sebelum dimakamkan di kawasan Cipageran, Cimahi, pada Selasa (2/9/2025).
Acil Bimbo lahir pada 20 Agustus 1943 dan dikenal luas sebagai salah satu pilar utama grup musik Bimbo yang mewarnai industri musik Indonesia sejak era 1970-an.
Kiprah Acil bersama Bimbo tak hanya sebatas dunia musik, tetapi juga memberi warna dalam ranah sosial, budaya, hingga isu lingkungan hidup.
Selain aktif di dunia musik, pada tahun 2000 Acil pernah dipercaya menjabat sebagai Ketua LSM Bandung Spirit yang fokus pada isu-isu sosial masyarakat.
Perjalanan hidupnya merefleksikan sosok seniman yang bukan hanya menciptakan karya, tetapi juga meninggalkan jejak pemikiran yang membumi.
Bersama kakak dan adiknya, grup Bimbo dikenal dengan lagu-lagu bernuansa religi, kritik sosial, hingga cinta yang abadi lintas generasi.
Karya monumental seperti Sajadah Panjang, Melati dari Jayagiri, Flamboyan, hingga Ada Anak Bertanya pada Bapaknya menjadi bukti kontribusi besar Acil dalam musik Indonesia.
Lagu-lagu tersebut bukan hanya populer pada masanya, tetapi juga masih kerap diputar setiap bulan Ramadan dan menjadi bagian dari perjalanan spiritual masyarakat Indonesia.
Generasi muda pun masih mengenal karya Bimbo, berkat nilai universal dalam liriknya yang tetap relevan hingga kini.
Kepergian Acil Bimbo menutup perjalanan panjang seorang musisi yang konsisten menjaga idealisme dalam berkarya.
Sejumlah kerabat dan penggemar mengenangnya sebagai pribadi sederhana, rendah hati, sekaligus penuh perhatian terhadap lingkungan sekitar.
Banyak yang menilai, almarhum memiliki kepekaan sosial yang tinggi, yang kemudian tercermin dalam karya-karyanya yang sarat makna.
Tak sedikit pula yang mengingat Bimbo sebagai grup musik yang mampu menyatukan seni dan pesan moral tanpa kehilangan sentuhan keindahan.
Acil Bimbo juga dikenal aktif dalam kegiatan kemasyarakatan, salah satunya melalui gerakan peduli lingkungan di Bandung.
Keterlibatannya dalam gerakan tersebut menunjukkan bahwa seni dan kepedulian sosial bisa berjalan beriringan.
Kini, kepergian sosok seniman besar ini meninggalkan ruang kosong dalam perjalanan musik Indonesia.
Namun warisan karya dan pemikiran yang ia tinggalkan akan tetap hidup dan menjadi inspirasi bagi generasi penerus.
Bagi keluarga, kepergian almarhum tentu meninggalkan duka mendalam, terlebih ia dikenal sangat dekat dengan anak dan cucunya.
Meski begitu, banyak pihak percaya bahwa karya dan nilai yang diwariskan Acil akan menjadi penguat bagi keluarganya.
Para musisi muda pun diharapkan mampu menjadikan perjalanan hidup Acil sebagai teladan dalam menjaga kualitas karya.
Wafatnya Acil Bimbo menjadi momentum refleksi bagi dunia musik Indonesia tentang pentingnya konsistensi, idealisme, serta kepedulian sosial dalam berkarya.
Lebih dari sekadar musisi, Acil adalah potret seniman sejati yang mendedikasikan hidupnya untuk musik, masyarakat, dan alam.
Indonesia kehilangan sosok berharga, namun bangsa ini masih memiliki warisan musik yang akan terus menghidupkan nama Acil Bimbo dalam sejarah.***









