KoranBandung.co.id – Istilah anarko dan anarki sering muncul dalam pemberitaan unjuk rasa, namun keduanya memiliki makna yang berbeda dan kerap disalahpahami.
Dalam beberapa tahun terakhir, kata anarko sering dikaitkan dengan aksi demonstrasi yang berujung ricuh di sejumlah kota besar Indonesia.
Sementara itu, istilah anarki lebih dulu dikenal masyarakat luas dan sering disamakan dengan tindakan chaos atau kekacauan massa.
Kesalahpahaman ini memunculkan stigma baru yang kerap menempel pada kelompok tertentu setiap kali terjadi aksi demonstrasi yang berlangsung tidak kondusif.
Secara bahasa, anarki berasal dari kata Yunani “anarkhia” yang berarti tanpa pemerintahan.
Dalam pemahaman politik, anarki menggambarkan suatu kondisi di mana otoritas atau pemerintah tidak diakui sehingga tatanan masyarakat berjalan tanpa struktur kekuasaan formal.
Makna anarki dalam literatur klasik sebenarnya tidak selalu merujuk pada kekerasan atau kerusuhan, melainkan pada sistem tanpa dominasi kekuasaan.
Namun, dalam perkembangan wacana populer, kata anarki kemudian dipersempit maknanya menjadi sinonim dari kekacauan dan kerusakan.
Berbeda dengan anarki, istilah anarko lebih sering dikaitkan dengan ideologi tertentu yang berkembang di kalangan kelompok muda dan komunitas perlawanan sosial.
Anarko di Indonesia sering disebut sebagai singkatan atau representasi dari anarkisme, sebuah paham politik yang menolak segala bentuk otoritas hierarkis.
Paham anarkisme yang kemudian dikenal dengan istilah anarko menekankan pentingnya kebebasan individu, solidaritas, dan penghapusan dominasi negara maupun kapitalisme.
Meski begitu, pemaknaan anarko dalam konteks demonstrasi di Indonesia sering kali dipelintir menjadi label bagi kelompok perusuh.
Media arus utama kerap menggunakan kata anarko untuk menandai pelaku vandalisme atau perusakan fasilitas umum ketika aksi unjuk rasa berlangsung ricuh.
Padahal, tidak semua yang disebut anarko melakukan tindakan kekerasan atau pengrusakan karena sebagian kelompok justru menekankan pada gerakan sosial alternatif.
Banyak komunitas yang mengaku berpaham anarko lebih memilih aktivitas edukasi, seni, hingga solidaritas berbasis komunitas dibandingkan tindakan konfrontatif.
Perbedaan mendasar antara anarki dan anarko perlu dipahami agar tidak terjadi generalisasi yang merugikan banyak pihak.
Anarki merujuk pada kondisi sosial tanpa pemerintahan, sedangkan anarko merujuk pada penganut ideologi anarkisme atau mereka yang menggunakan simbol-simbolnya.
Stigma yang melekat pada istilah anarko biasanya lahir dari pemberitaan media ketika demonstrasi berlangsung ricuh.
Kondisi ini membuat publik lebih mudah mengasosiasikan anarko dengan aksi vandalisme ketimbang memahami esensi ideologi yang sebenarnya.
Para pengamat sosial mencatat bahwa kesalahan pemaknaan ini juga dipengaruhi oleh kurangnya literasi politik di masyarakat.
Hal ini menyebabkan perbedaan antara anarki dan anarko tidak pernah dibahas secara mendalam di ruang publik.
Padahal, pemahaman yang benar mengenai dua istilah tersebut dapat membantu masyarakat menilai suatu peristiwa dengan lebih objektif.
Dalam konteks hukum, aparat kepolisian biasanya menggunakan istilah anarko untuk menyebut kelompok yang dianggap berpotensi menimbulkan kericuhan.
Namun, pendekatan seperti ini dikhawatirkan mengaburkan batas antara hak berekspresi warga dengan tindakan kriminal murni.
Oleh karena itu, penting bagi media maupun aparat untuk menggunakan istilah dengan lebih hati-hati agar tidak memunculkan stigma yang salah.
Sosiolog juga menekankan bahwa anarki dan anarko tidak bisa serta-merta disamakan dengan tindakan kriminal.
Sebab, dalam tradisi pemikiran politik, anarkisme juga memiliki varian yang menekankan pada perdamaian dan penolakan kekerasan.
Pemahaman publik yang lebih utuh dapat menjadi kunci untuk membedakan antara ideologi, kondisi sosial, dan tindakan kriminal.
Dengan begitu, masyarakat bisa menghindari jebakan penyederhanaan makna yang justru berpotensi menimbulkan bias dalam melihat suatu peristiwa demonstrasi.
Kesadaran literasi ini juga akan membantu generasi muda memahami bahwa simbol atau jargon yang digunakan dalam aksi protes tidak selalu bermakna tunggal.
Melalui pemahaman yang benar, perbedaan arti anarko dan anarki dapat dilihat secara lebih objektif tanpa menimbulkan stigma yang merugikan pihak manapun.
Pada akhirnya, baik istilah anarki maupun anarko akan terus muncul dalam ruang publik setiap kali terjadi aksi massa.
Tugas masyarakat, media, dan aparat adalah memastikan bahwa pemahaman terhadap dua istilah ini tidak hanya berhenti pada kesan negatif semata.
Dengan demikian, diskursus mengenai anarko dan anarki bisa menjadi ruang edukasi politik yang sehat di tengah masyarakat demokratis.***









