KoranBandung.co.id – Istilah “worth to price” kerap digunakan oleh masyarakat, terutama di dunia belanja dan review produk.
Banyak orang memakai frasa ini untuk menggambarkan apakah harga suatu barang sebanding dengan kualitas yang didapatkan.
Namun, dalam penggunaan bahasa Inggris yang benar, ternyata frasa “worth to price” tidak termasuk penulisan baku.
Penggunaan “worth to price” sebenarnya muncul dari kebiasaan pengguna internet yang ingin menyingkat maksud mereka.
Frasa tersebut kerap dipakai di media sosial, marketplace, hingga konten ulasan produk untuk menunjukkan kelayakan harga.
Meski begitu, pakar bahasa menilai bahwa struktur ini tidak sesuai kaidah tata bahasa Inggris formal.
Secara umum, arti yang ingin disampaikan dari “worth to price” adalah apakah sebuah barang atau jasa layak dengan harga yang ditawarkan.
Dalam bahasa Inggris baku, ungkapan yang tepat adalah “worth the price” atau “value for money”.
Kedua frasa tersebut memiliki makna yang sama, yakni menilai kelayakan harga dengan kualitas yang diterima pembeli.
“Value for money” banyak dipakai dalam konteks pemasaran internasional untuk menarik minat konsumen.
Sedangkan “worth the price” lebih sering muncul dalam percakapan sehari-hari dan review konsumen di forum online.
Kebiasaan salah kaprah seperti “worth to price” sebenarnya wajar terjadi, terutama bagi masyarakat yang bukan penutur asli.
Perkembangan bahasa di era digital memang kerap dipengaruhi oleh tren percakapan yang menyebar cepat di internet.
Namun, pemahaman yang benar tetap penting agar pesan tidak menimbulkan salah tafsir.
Penggunaan istilah yang kurang tepat bisa memengaruhi citra profesional seseorang, apalagi jika digunakan dalam konteks bisnis internasional.
Bagi pelajar maupun pekerja yang berhubungan dengan komunikasi lintas negara, memahami perbedaan ini sangatlah penting.
Kesalahan sederhana bisa membuat pesan terlihat kurang kredibel di mata audiens global.
Meski tidak baku, “worth to price” tetap populer karena dianggap praktis dan mudah dipahami oleh banyak orang.
Popularitasnya meningkat karena banyak konten kreator menggunakannya dalam review singkat di media sosial.
Fenomena ini membuktikan bahwa bahasa selalu berkembang sesuai dengan kebutuhan komunikasi masyarakat.
Namun, di sisi lain, tetap ada aturan dasar yang sebaiknya tidak diabaikan.
Pakar bahasa menyarankan agar masyarakat menggunakan “worth the price” jika ingin menulis dalam konteks formal.
Sedangkan untuk situasi santai, banyak orang mungkin tidak mempermasalahkan penggunaan “worth to price”.***









