Dampak AGRU terhadap Emisi Karbon Dioksida dan Perubahan Iklim
Ilustrasi. Sumber: Unsplash/ Powder Coating Plant Manufacturer

Dampak AGRU terhadap Emisi Karbon Dioksida dan Perubahan Iklim

Diposting pada
web otomotif bandung barat

KoranBandung.co.id – Di tengah upaya global untuk membatasi pemanasan suhu bumi, industri gas alam cair (LNG) dihadapkan pada tuntutan untuk membuktikan diri sebagai solusi energi bersih, bukan sekadar sumber polusi lain.

Dalam rantai pasok LNG, terdapat sebuah unit teknologi yang secara langsung menentukan profil emisi karbon industri ini: Acid Gas Removal Unit (AGRU), yaitu fasilitas pra-pengolahan gas yang berfungsi menghilangkan gas asam.

Fungsi Inti AGRU (Acid Gas Removal Unit)

AGRU berfungsi sebagai unit pemurnian krusial yang harus dijalankan sebelum gas alam dapat dicairkan. Gas alam mentah seringkali mengandung karbon dioksida​ dalam jumlah signifikan. Jika karbon dioksida​ tidak dihilangkan, ia akan membeku pada suhu kriogenik (-162°C) dan menyumbat peralatan di pabrik pencairan, menyebabkan kegagalan sistem total.

Oleh karena itu, fungsi AGRU adalah membersihkan gas alam secara efektif hingga kandungan karbon dioksida​ berada di bawah batas standar. Proses pemurnian ini, yang biasanya menggunakan larutan amina, merupakan proses penting yang menjamin keselamatan operasional dan kualitas produk akhir.

Dampak AGRU terhadap Emisi Karbon

Peran AGRU dalam emisi karbon memiliki dua sisi: ia menciptakan emisi langsung, tetapi ia juga berpotensi mengurangi emisi tidak langsung.

Baca Juga:  Apa Penyebab Mesin Pompa Air Sering Mati Sendiri? Ternyata Ini Sebabnya

Emisi Langsung dari Proses Pemurnian

Gas karbon dioksida​ yang berhasil dipisahkan dan ditangkap oleh AGRU harus dibuang. Dalam banyak kasus, karbon dioksida yang telah dilepaskan dari larutan amina akan langsung dilepaskan ke atmosfer (vented).

Pelepasan gas yang terkonsentrasi ini menjadi sumber emisi karbon dioksida​ langsung yang signifikan dari pabrik LNG. Dengan demikian, meskipun AGRU melindungi peralatan, proses penanganan gas asam konvensional secara langsung berkontribusi pada peningkatan gas rumah kaca.

Emisi Tidak Langsung dari Konsumsi Energi

Proses AGRU sendiri membutuhkan energi yang besar. Untuk melepaskan gas asam yang diserap (meregenerasi) larutan amina agar bisa digunakan kembali, larutan tersebut harus dipanaskan secara intensif.

Panas ini biasanya dihasilkan dengan membakar sebagian gas alam di pabrik. Pembakaran gas alam ini menghasilkan karbon dioksida dan melepaskannya ke atmosfer. Efisiensi operasi AGRU yang rendah akan meningkatkan kebutuhan energi ini, sehingga memperbesar emisi tidak langsung.

AGRU sebagai Kunci Solusi Iklim

Terlepas dari tantangan emisinya, AGRU memegang kunci untuk solusi iklim jangka panjang melalui teknologi penangkapan karbon.

Memfasilitasi Carbon Capture and Storage (CCS)

Unit AGRU adalah langkah pertama yang diperlukan untuk keberhasilan implementasi Carbon Capture and Storage (CCS). Karbon dioksida​ yang dilepaskan dari larutan amina setelah pemisahan sudah berada dalam aliran yang sangat terkonsentrasi.

Baca Juga:  Apa Nama Alat Untuk Membuat Ulir Luar? Inilah Nama Lain dari Snei/ Sney

Aliran yang terkonsentrasi ini jauh lebih mudah dan lebih murah untuk ditangkap, dimampatkan, dan disuntikkan ke dalam formasi geologi bawah tanah dibandingkan dengan mencoba menangkap karbon dioksida dari gas buang turbin atau boiler yang memiliki konsentrasi rendah.

Peran Jembatan dalam Menggantikan Batu Bara

AGRU secara tidak langsung berkontribusi pada mitigasi iklim global melalui substitusi bahan bakar. Dengan memastikan kemurnian gas alam, AGRU menjamin bahwa LNG dapat terus menjadi alternatif yang layak dan andal untuk menggantikan batu bara yang jauh lebih kotor.

Gas alam menghasilkan emisi karbon dioksida​ sekitar 50% lebih rendah saat dibakar untuk listrik dibandingkan batu bara. Keandalan pasokan LNG, yang dijamin oleh proses pra-pengolahan AGRU yang sukses, sangat penting untuk mempercepat peralihan ini.

AGRU dapat dianggap sebagai unit yang bersifat kontradiktif, yaitu merupakan sumber utama emisi langsung dalam pabrik LNG, namun sekaligus merupakan komponen teknologi yang sangat penting untuk mencapai dekarbonisasi total.

Kualitas, efisiensi, dan keamanan pabrik pencairan LNG sangat bergantung pada kinerja AGRU. Untuk mewujudkan potensi LNG sebagai bahan bakar transisi yang bersih dan berkontribusi signifikan terhadap upaya penanggulangan perubahan iklim global, AGRU harus diintegrasikan dengan fasilitas Penangkapan dan Penyimpanan Karbon.

Baca Juga:  Apakah Rumah Subsidi Boleh Ditempati oleh Saudara atau Orang Tua? Simak Aturannya

Integrasi AGRU dan CCS menjadi kunci bagi industri LNG dalam mengubah emisi CO₂ yang ditangkap menjadi nol bersih, serta memposisikan gas alam sebagai elemen penting dalam perjuangan melawan perubahan iklim. 

Dalam konteks operasional LNG di Indonesia, PGN LNG Indonesia berada pada posisi strategis untuk mengintegrasikan teknologi AGRU sebagai bagian dari agenda transisi energi bersih.

Sebagai operator infrastruktur LNG yang terhubung langsung dengan rantai pasok energi nasional, PGN LNG Indonesia memahami bahwa peningkatan kualitas gas melalui AGRU adalah tahap fundamental dalam memastikan LNG yang diproduksi dan didistribusikan tetap layak sebagai bahan bakar transisi.***

Gambar Gravatar
Seorang writer di bidang jurnalis dan blogger. Sudah aktif menulis di media Indonesia sejak tahun 2016.