KoranBandung.co.id – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sukatani di Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, terpaksa menghentikan aktivitas sementara setelah muncul dugaan kasus keracunan makanan yang menimpa sejumlah siswa SMP Bina Karya.
Peristiwa tersebut menjadi sorotan publik karena dapur penyedia makanan diketahui memiliki keterkaitan dengan keluarga mantan Bupati Bandung Barat, Aa Umbara Sutisna.
Namun, pihak pengelola menegaskan bahwa tanggung jawab operasional dapur sepenuhnya berada di bawah kendali pribadi anak Aa Umbara, yakni Andri Wibawa, bukan mantan kepala daerah tersebut.
Kasus dugaan keracunan makanan itu mencuat usai belasan siswa mengalami gejala seperti mual, pusing, dan muntah setelah mengonsumsi menu yang disediakan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebagian besar siswa yang terdampak langsung mendapatkan perawatan di Puskesmas Ngamprah, sementara satu orang siswa harus dirujuk ke RS Karsima Cimareme karena gejalanya dinilai lebih berat.
Kejadian ini memicu kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan dan pengawasan distribusi makanan dalam program MBG yang diluncurkan untuk mendukung pemenuhan gizi pelajar di wilayah Bandung Barat.
Pemerintah daerah melalui Dinas Kesehatan KBB langsung menurunkan tim untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap sampel makanan, dapur pengolah, serta prosedur higienitas yang dijalankan selama proses memasak dan distribusi makanan.
Penutupan sementara dapur SPPG Sukatani dilakukan sebagai langkah pencegahan agar tidak muncul kasus serupa sebelum hasil investigasi laboratorium dan pemeriksaan lapangan dinyatakan aman.
Sumber internal menyebutkan, penghentian sementara kegiatan dapur tidak hanya bertujuan untuk penyelidikan, tetapi juga sebagai upaya memastikan bahwa seluruh standar sanitasi dan pengelolaan pangan sesuai dengan pedoman kesehatan masyarakat.
Dalam klarifikasinya, Andri Wibawa menegaskan bahwa dapur SPPG Sukatani berada di bawah tanggung jawab pribadinya.
Ia menyampaikan bahwa sejak awal program MBG berjalan, dirinya telah mengelola proses operasional dapur secara mandiri, tanpa keterlibatan sang ayah, Aa Umbara Sutisna, baik dalam aspek pengelolaan maupun kebijakan internal.***









