KoranBandung.co.id – Rizki Nur Fadhilah, seorang pesepakbola muda asal Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, diduga menjadi korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di luar negeri.
Situasi yang menimpa Rizki memicu perhatian luas setelah permintaan bantuan keluarga viral di media sosial.
Perkembangan kasus ini menempatkan pemerintah daerah hingga otoritas diplomatik Indonesia dalam posisi yang harus bergerak cepat.
Berbagai pihak kini menyoroti pentingnya perlindungan bagi warga Indonesia yang bekerja atau merantau ke luar negeri.
Rizki Nur Fadhilah, pemuda yang dikenal aktif sebagai pesepakbola lokal di Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, kini tengah berada di bawah perlindungan KBRI Phnom Penh setelah diduga menjadi korban eksploitasi jaringan TPPO.
Kisahnya menjadi sorotan publik setelah sang nenek, Imas Siti Rohanah, membagikan video permohonan bantuan melalui media sosial yang kemudian menyebar luas dan mengundang simpati dari masyarakat.
Dalam video tersebut, Imas menjelaskan bahwa cucunya berada dalam kondisi tidak aman dan membutuhkan bantuan segera untuk dipulangkan, yang kemudian menjadi pemantik perhatian para pejabat di Jawa Barat.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat, melalui Dedi Mulyadi selaku perwakilan resmi, langsung menanggapi kasus ini dengan menyatakan komitmen penuh untuk memastikan Rizki dapat kembali ke tanah air tanpa hambatan.
Dedi menegaskan bahwa pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan Polda Jabar dan pihak KBRI di Phnom Penh untuk mempercepat seluruh proses administrasi dan teknis terkait pemulangan.
Ia juga menyampaikan bahwa Pemprov Jabar siap menanggung seluruh biaya pemulangan Rizki sebagai bentuk tanggung jawab negara terhadap keamanan warganya di luar negeri.
Menurut penjelasan Dedi, kasus Rizki menjadi pengingat bahwa peluang pekerjaan ke luar negeri yang ditawarkan tanpa prosedur resmi kerap berujung pada penipuan atau bahkan eksploitasi.
Ia menekankan bahwa banyak warga Indonesia yang terjebak dalam bujuk rayu para perekrut ilegal dengan iming-iming gaji besar, namun pada akhirnya menghadapi tekanan, kekerasan, hingga ancaman keselamatan.
Kasus-kasus seperti ini terus berulang dan membutuhkan kewaspadaan yang lebih tinggi dari masyarakat serta pengawasan yang lebih ketat dari pemerintah.
Rizki sendiri sebelumnya dikenal sebagai pemuda yang memiliki potensi di dunia sepak bola dan beberapa kali mengikuti kompetisi tingkat lokal di Kabupaten Bandung.
Dorongan untuk mencari pengalaman dan penghasilan di luar negeri menjadi alasan ia menerima tawaran yang belakangan diduga sebagai pintu masuk jaringan perdagangan orang.
Kini, setelah berada di KBRI Phnom Penh, kondisi Rizki disebut stabil dan aman sambil menunggu jadwal pemulangannya ke Indonesia.***









