Telah Terjadi 9 Kali Gempa Di Kabupaten Bandung, Diduga Karena Ini
Gambar hanya ilustrasi.

Telah Terjadi 9 Kali Gempa Di Kabupaten Bandung, Diduga Karena Ini

Diposting pada
web otomotif bandung barat

KoranBandung.co.id – Fenomena gempa bumi kembali menguji kesiapsiagaan masyarakat Kabupaten Bandung.

Rangkaian getaran yang muncul dalam kurun waktu singkat memicu perhatian luas terhadap aktivitas kegempaan di wilayah selatan Jawa Barat tersebut.

Otoritas terkait kini berupaya memberikan penjelasan mendalam sekaligus memastikan bahwa informasi yang beredar tetap akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.

Gempa bumi tektonik kembali mengguncang Kabupaten Bandung pada Kamis, 20 November 2025, menandai kejadian kesembilan dalam satu rangkaian aktivitas seismik yang terpantau dalam waktu berdekatan.

Guncangan berkekuatan magnitudo 3,2 tersebut tercatat terjadi pada pukul 00:26:56 WIB dan langsung menjadi sorotan karena lokasinya berada di daratan dengan kedalaman hiposenter yang relatif dangkal.

BMKG menjelaskan bahwa episenter gempa berada pada koordinat 7.22 Lintang Selatan dan 107.61 Bujur Timur, berada sekitar 23 kilometer di tenggara Kabupaten Bandung.

Posisi ini menunjukkan bahwa sumber gempa berada pada zona yang memang dikenal aktif secara tektonik karena keberadaan sesar lokal yang kerap memicu aktivitas seismik berkala.

BMKG menegaskan bahwa kedalaman gempa yang hanya 10 kilometer menunjukkan bahwa jenis guncangan ini termasuk gempa dangkal yang biasanya menimbulkan getaran lebih terasa meskipun memiliki magnitudo kecil.

Jenis gempa dangkal juga seringkali berkaitan dengan pergerakan sesar aktif yang menjadi bagian dari dinamika geologi Jawa Barat bagian selatan.

Baca Juga:  Parah! Kabel Grounding Jalur KCIC Dimaling, Pelaku Ditangkap di Padalarang

Aktivitas sesar inilah yang dinilai menjadi pemicu utama serangkaian gempa yang muncul sejak 19 November 2025 malam.

Getaran yang terjadi dini hari itu dilaporkan dirasakan secara nyata oleh warga Pangalengan, salah satu kecamatan yang berada cukup dekat dengan pusat gempa.

Intensitas guncangan di wilayah tersebut mencapai skala III hingga IV MMI yang menggambarkan getaran kuat di dalam rumah, benda-benda bergetar, dan beberapa warga merasakan sensasi seperti dilalui kendaraan berat.

Di sejumlah wilayah lain seperti Banjaran, Ibun, Kertasari, Pasirjambu, Baleendah, dan Margaasih, getaran terukur pada skala II hingga III MMI yang menunjukkan bahwa masyarakat masih dapat merasakan guncangan meski intensitasnya lebih ringan.

Sejumlah warga di wilayah tersebut mendeskripsikan getaran sebagai hentakan singkat yang membuat benda-benda gantung bergerak dan jendela berderik.

Hingga saat ini, meskipun getaran berlangsung beberapa kali, tidak ditemukan adanya laporan kerusakan bangunan maupun korban jiwa imbas dari rangkaian gempa tersebut.

BMKG juga mengkonfirmasi bahwa gempa M3,2 tersebut merupakan lanjutan dari rangkaian gempa sebelumnya dengan magnitudo awal 3,1 yang terjadi pada 19 November 2025 pukul 22:54 WIB.

Baca Juga:  Kecelakaan Motor Terjadi di Jalan Ciherang Banjaran

Dalam rentang waktu hingga pukul 01:20 WIB, total sembilan gempa tercatat terjadi di lokasi yang sama dengan magnitudo terbesar mencapai 3,4.

Sementara itu, gempa terkecil yang terdata memiliki magnitudo 1,0 dan terjadi pada pukul 00:50 WIB.

Rangkaian gempa semacam ini umumnya tidak menimbulkan dampak besar, namun tetap menjadi catatan penting bagi para peneliti geologi karena mengindikasikan adanya pergerakan struktur bawah permukaan yang perlu diawasi.

BMKG menjelaskan bahwa pola aktivitas semacam ini dapat berlangsung dalam durasi singkat maupun berlanjut hingga beberapa hari tergantung pada kondisi sesar yang memicunya.

Meski demikian, masyarakat Kabupaten Bandung dan sekitarnya diimbau tetap tenang serta mengikuti informasi resmi dari BMKG untuk menghindari penyebaran kabar tidak benar.

Kesiapsiagaan masyarakat menjadi elemen penting agar potensi risiko dapat diminimalkan sekalipun gempa yang terjadi berskala kecil hingga menengah.

Sejumlah pakar kebencanaan juga menekankan pentingnya pemahaman publik mengenai karakteristik gempa dangkal yang umumnya menimbulkan getaran kuat namun jarang menimbulkan kerusakan besar pada struktur bangunan.

Langkah edukatif melalui informasi yang disampaikan secara konsisten dianggap krusial agar masyarakat tidak panik setiap kali terjadi aktivitas seismik.

Zona selatan Kabupaten Bandung sendiri merupakan salah satu area yang kerap mengalami dinamika tektonik, sehingga kejadian gempa kecil berulang seperti ini bukan merupakan hal yang asing bagi para ahli geologi.

Baca Juga:  Pelaku Pembunuhan Warga Baleendah Ditangkap Kurang dari Tiga Jam

Namun demikian, intensitas kejadian sebanyak sembilan kali dalam waktu singkat tetap menjadi perhatian penting bagi pusat pemantauan gempa agar pola pergerakan sesar dapat dianalisis lebih rinci.

Rangkaian gempa ini semakin menegaskan bahwa aktivitas seismik terus berlangsung dan memerlukan pengawasan berkelanjutan untuk memastikan keselamatan masyarakat.

Dengan tersedianya data terbaru dan pemantauan realtime, masyarakat diharapkan dapat merasa lebih aman dan memahami bahwa aktivitas gempa merupakan bagian dari dinamika alam yang dapat diantisipasi.***

Gambar Gravatar
Seorang writer di bidang jurnalis dan blogger. Sudah aktif menulis di media Indonesia sejak tahun 2016.