KoranBandung.co.id – Kedatangan Walikota Bandung yang batal hadir untuk meninjau Buruan SAE di depan SDN 117 Batununggal memicu kekecewaan mendalam dari para siswa yang telah menunggu sejak pagi.
Kejadian ini menyita perhatian publik setelah video dan foto momen murid-murid sekolah dasar berbaris di bawah terik matahari tersebar luas.
Insiden tersebut menuai respons beragam, mulai dari kritik mengenai koordinasi antar pemerintah hingga empati terhadap anak-anak yang menangis karena rencana penyambutan tak sesuai harapan.
Peristiwa ini terjadi pada hari peringatan Hari Guru di SDN 117 Batununggal Kota Bandung, ketika pihak sekolah mendapat informasi bahwa Walikota Bandung dijadwalkan meninjau lokasi Buruan SAE atau program pertanian perkotaan yang terletak persis di depan area sekolah.
Sejumlah sumber menyebutkan bahwa pihak kelurahan sebelumnya memberikan pemberitahuan kepada pihak sekolah bahwa Walikota akan hadir, sehingga sekolah pun diminta mempersiapkan barisan siswa sebagai bentuk penyambutan.
Instruksi tersebut kemudian diteruskan kepada guru-guru saat upacara peringatan Hari Guru, yang kemudian meminta para murid untuk bersiap menyambut tamu penting tersebut.
Persiapan berlangsung sejak pagi, di mana siswa sempat kembali ke kelas sambil menunggu waktu kedatangan yang belum dipastikan secara jelas.
Menjelang siang, kabar mengenai kedatangan Walikota disebut-sebut telah mendekat, sehingga murid kembali diarahkan keluar untuk berjajar di pinggir jalan depan sekolah.
Harapan datangnya pemimpin Kota Bandung itu membuat banyak siswa bersemangat, bahkan beberapa terlihat antusias mengikuti arahan guru dan petugas kelurahan.
Namun hingga jarum jam melewati pukul 12.00 WIB, keberadaan Walikota tak kunjung terlihat dan situasi mulai menunjukkan ketidakpastian.
Setelah menunggu sekitar lima jam dari pukul 08.00 hingga 13.00 WIB, akhirnya informasi pembatalan kedatangan Walikota diterima oleh pihak sekolah.
Kabar mendadak ini membuat banyak siswa menunjukkan rasa kecewa dan beberapa bahkan menangis karena telah menunggu dalam waktu lama dengan harapan dapat bertemu langsung dengan pemimpin kotanya.
Kekecewaan itu menjadi lebih besar karena momen tersebut berlangsung bertepatan dengan Hari Guru, di mana suasana bahagia berubah menjadi penuh tanya dari para murid.
Para pendidik di sekolah menyampaikan bahwa mereka hanya menjalankan instruksi agar siswa bersiap menyambut tamu penting sesuai informasi dari kelurahan.
Pihak sekolah juga menegaskan bahwa keputusan mengeluarkan siswa untuk berbaris dilakukan berdasarkan kabar terbaru yang mereka terima mengenai pergerakan Walikota.
Di sisi lain, Walikota Bandung akhirnya memberikan respons resmi untuk meluruskan situasi yang terjadi.
Dalam pernyataan yang beredar, Walikota menyampaikan bahwa dirinya tidak pernah memberikan instruksi untuk melakukan pengerahan siswa dalam penyambutan.
Beliau juga menegaskan bahwa perlu pendalaman informasi untuk mengetahui di mana miskomunikasi terjadi sehingga ratusan anak harus menunggu tanpa kepastian.
Walikota menyampaikan bahwa segala bentuk kegiatan yang melibatkan anak sekolah seharusnya mengutamakan kenyamanan serta keselamatan, termasuk pembatasan durasi kegiatan di luar kelas.
Pihaknya berkomitmen menindaklanjuti dan meminta klarifikasi dari pihak kelurahan maupun perangkat wilayah yang memberi instruksi awal.
Insiden ini membuka percakapan lebih luas tentang tata kelola komunikasi acara resmi, terutama jika melibatkan anak-anak yang rentan secara fisik dan emosional.***









