KoranBandung.co.id – Banjir yang kembali merendam permukiman warga di Desa Cimaung memunculkan kekhawatiran baru mengenai perubahan tata aliran air di kawasan tersebut.
Insiden pada Kamis, 4 Desember 2025, pukul 14.00 WIB itu membuka perbincangan mengenai efektivitas pembangunan infrastruktur yang berdampak terhadap lingkungan sekitar.
Peristiwa banjir yang terjadi untuk ketiga kalinya ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai kesiapan sistem drainase lokal menghadapi intensitas hujan yang semakin ekstrem.
Warga Kampung Sukadana RT 03 RW 06, Desa Cimaung, Kecamatan Cimaung, Kabupaten Bandung, dikejutkan oleh luapan air yang tiba-tiba memasuki area permukiman mereka.
Air yang menggenangi rumah-rumah warga tercatat masuk secara cepat begitu curah hujan meningkat tajam pada siang hari itu.
Beberapa warga sempat berupaya menghalangi laju air dengan peralatan sederhana sebelum akhirnya kondisi tidak dapat dikendalikan.
Peristiwa tersebut dilaporkan oleh seorang warga bernama Taufiq Tarmuji yang menyampaikan bahwa banjir kali ini berbeda dari kejadian sebelumnya.
Menurut penjelasan yang dihimpun dari lapangan, air tidak lagi mengalir ke saluran sebagaimana mestinya akibat adanya tumpukan material pembangunan di beberapa titik.
Tumpukan material tersebut disebut menjadi penyebab utama air meluap dan memasuki rumah-rumah penduduk.
Informasi dari warga menyebutkan bahwa proyek pembangunan benteng di wilayah tersebut secara tidak langsung menutupi beberapa jalur air kecil yang sebelumnya menjadi saluran pembuangan utama.
Saluran-saluran kecil yang selama ini berfungsi sebagai aliran penyalur hujan diduga tertutup oleh tanah, bebatuan, dan sisa pembangunan.
Kondisi ini membuat air hujan tidak memiliki ruang mengalir sehingga mengarah langsung ke permukiman warga.
Banjir ketiga yang terjadi dalam waktu relatif berdekatan ini menunjukkan adanya perubahan yang cukup signifikan pada pola aliran air di Desa Cimaung.***









