Cuaca Buruk Picu Kematian Massal Ikan di Keramba Apung Waduk Saguling, Jatiluhur, hingga Cirata
Sumber: Instagram @info.saguling

Cuaca Buruk Picu Kematian Massal Ikan di Keramba Apung Waduk Saguling, Jatiluhur, hingga Cirata

Diposting pada
web otomotif bandung barat

KoranBandung.co.id – Cuaca buruk yang melanda wilayah Jawa Barat selama sepekan terakhir berdampak serius terhadap keberlangsungan usaha peternak ikan di keramba apung Waduk Saguling, Jatiluhur, dan Cirata.

Fenomena alam ini tidak hanya mengganggu aktivitas budidaya ikan, tetapi juga memicu krisis ekonomi mendadak bagi ribuan peternak yang menggantungkan hidup dari sektor perikanan air tawar.

Kondisi tersebut semakin memprihatinkan karena kematian ikan terjadi secara tiba-tiba dan dalam jumlah besar, sehingga peternak nyaris tidak memiliki waktu untuk melakukan langkah penyelamatan.

Cuaca Ekstrem dan Fenomena Mabuk Ikan

Cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang dan perubahan suhu air secara drastis menjadi pemicu utama terjadinya fenomena yang dikenal di kalangan peternak sebagai mabuk ikan.

Fenomena mabuk ikan terjadi ketika kadar oksigen terlarut di dalam air menurun secara signifikan akibat percampuran lapisan air permukaan dan dasar yang dipicu oleh angin dan hujan intens.

Kondisi tersebut menyebabkan ikan mengalami stres akut, kehilangan keseimbangan, hingga akhirnya mati secara massal dalam waktu singkat.

Baca Juga:  Evakuasi Dramatis di Antapani, Warga Tertimbun Reruntuhan Saat Penggalian Kolam Renang

Peternak di keramba apung Waduk Saguling, Jatiluhur, dan Cirata melaporkan bahwa kematian ikan terjadi hampir bersamaan di berbagai titik, sehingga menimbulkan kerugian besar yang sulit dihindari.

Dalam situasi normal, kematian ikan biasanya berlangsung bertahap dan masih dapat ditekan dengan pengelolaan pakan dan kualitas air, namun kondisi cuaca kali ini membuat upaya tersebut tidak efektif.

Kerugian Mencapai Puluhan Ton Ikan

Berdasarkan keterangan para peternak, jumlah ikan yang mati akibat cuaca buruk tersebut diperkirakan mencapai puluhan ton dari berbagai jenis budidaya.

Ikan nila, mas, dan patin menjadi komoditas yang paling terdampak karena dibudidayakan dalam jumlah besar di keramba apung waduk.

Kerugian tidak hanya dihitung dari volume ikan yang mati, tetapi juga dari biaya produksi yang telah dikeluarkan selama berbulan-bulan sebelum panen.

Peternak harus menanggung kerugian pakan, bibit, serta biaya perawatan keramba yang tidak sedikit, sementara hasil panen tidak dapat diselamatkan.

Sebagian peternak bahkan mengaku kehilangan seluruh isi keramba dalam waktu kurang dari dua hari akibat perubahan kualitas air yang ekstrem.

Baca Juga:  Puluhan Bangunan di Kawasan Situ Ciburuy Padalarang Dipastikan Dibongkar

Harga Ikan Anjlok Drastis di Tingkat Peternak

Untuk mengurangi potensi kerugian yang lebih besar, sebagian peternak terpaksa menjual ikan yang masih hidup dengan harga jauh di bawah harga pasar normal.

Ikan yang biasanya dijual dengan harga belasan hingga puluhan ribu rupiah per kilogram dilepas dengan harga sangat rendah demi menghindari kematian total.

Dalam kondisi paling ekstrem, terdapat ikan yang dijual hingga Rp1.000 per kilogram karena kondisinya sudah lemah dan tidak memungkinkan untuk dipelihara lebih lama.

Langkah tersebut diambil sebagai pilihan terakhir agar peternak masih memperoleh sedikit modal untuk mempertahankan usaha ke depan.

Namun, anjloknya harga ikan secara tiba-tiba turut memengaruhi stabilitas pasar lokal dan merugikan peternak yang tidak terdampak secara langsung.

Viral di Media Sosial dan Respons Publik

Peristiwa kematian massal ikan ini terekam dalam sebuah video yang kemudian diunggah oleh akun Instagram @info.saguling pada Senin, 26 Januari 2026.

Video tersebut memperlihatkan kondisi keramba apung yang dipenuhi ikan mati dan mengapung di permukaan air waduk.

Baca Juga:  Kebakaran Hebat di Babakan Ciparay Bandung, Petugas Damkar Masih Berjuang Padamkan Api

Unggahan tersebut dengan cepat menarik perhatian warganet dan memicu beragam respons, mulai dari simpati hingga kekhawatiran terhadap dampak lingkungan jangka panjang.

Sebagian masyarakat menyoroti pentingnya pengelolaan keramba apung yang lebih berkelanjutan untuk mengurangi risiko kerusakan ekosistem waduk.

Perhatian publik yang besar menunjukkan bahwa isu ini tidak hanya berdampak pada peternak, tetapi juga menyangkut ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan.***

Gambar Gravatar
Seorang writer di bidang jurnalis dan blogger. Sudah aktif menulis di media Indonesia sejak tahun 2016.