KoranBandung.co.id – Proses evakuasi hari kedua korban longsor di kawasan Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada Minggu 25 Januari 2026, mengalami penundaan karena munculnya longsoran baru di area Gunung Burangrang.
Kondisi cuaca yang tidak stabil sejak pagi membuat situasi di lokasi longsor kembali berisiko bagi tim penyelamat.
Aktivitas tanah yang masih bergerak memaksa petugas dan relawan melakukan evaluasi ulang sebelum melanjutkan pencarian korban.
Informasi terkait penundaan ini pertama kali diketahui publik melalui laporan langsung relawan di lapangan yang dibagikan lewat akun Instagram infobandungbarat.
Longsoran Susulan Mengubah Strategi Evakuasi
Longsoran baru yang terjadi di sekitar Gunung Burangrang terpantau terjadi tidak jauh dari titik utama pencarian korban longsor Pasir Kuning.
Material tanah dan bebatuan yang kembali bergerak dinilai dapat mengancam keselamatan tim evakuasi yang berada di bawah lereng.
Relawan yang berada di lokasi melaporkan bahwa suara gemuruh dan pergeseran tanah sempat terdengar sebelum longsoran susulan terjadi.
Situasi tersebut membuat petugas gabungan dari berbagai unsur harus menarik diri sementara dari area paling rawan.
Keputusan penundaan evakuasi diambil sebagai langkah mitigasi risiko agar tidak menambah jumlah korban dari kalangan petugas.
Kondisi Medan dan Cuaca Jadi Tantangan Utama
Wilayah Pasir Kuning dikenal memiliki kontur perbukitan dengan kemiringan tanah yang cukup ekstrem.
Curah hujan yang masih tinggi di kawasan Bandung Barat dalam beberapa hari terakhir memperparah kondisi tanah yang labil.
Air hujan yang meresap ke dalam tanah memperbesar potensi longsoran susulan di sepanjang lereng Gunung Burangrang.
Akses menuju titik longsor juga dilaporkan semakin sulit karena beberapa jalur tertutup material tanah.
Alat berat yang sebelumnya digunakan untuk membuka jalur evakuasi harus dihentikan operasionalnya sementara.
Keselamatan Tim Jadi Prioritas Utama
Koordinator lapangan bersama aparat terkait menegaskan bahwa keselamatan personel menjadi prioritas utama dalam operasi pencarian.
Setiap pergerakan tim di lapangan harus menunggu hasil pemantauan kondisi tanah dari pihak berwenang.
Petugas terus melakukan observasi visual dan teknis untuk memastikan tidak ada pergerakan tanah lanjutan.
Langkah ini dinilai penting agar proses evakuasi dapat dilanjutkan secara aman dan terukur.
Penundaan sementara dianggap lebih baik dibandingkan memaksakan evakuasi di tengah ancaman longsor susulan.
Informasi Relawan Jadi Rujukan Awal Publik
Laporan relawan yang disampaikan melalui media sosial menjadi sumber awal informasi bagi masyarakat.
Akun infobandungbarat membagikan perkembangan situasi lapangan secara real time berdasarkan pantauan langsung relawan.
Informasi tersebut membantu masyarakat memahami alasan penundaan evakuasi secara transparan.
Penyebaran informasi yang cepat juga mencegah munculnya spekulasi yang tidak sesuai kondisi lapangan.
Peran relawan dalam menyampaikan fakta lapangan dinilai penting dalam situasi darurat seperti ini.***









