KoranBandung.co.id – Keributan antar-organisasi kemasyarakatan terjadi di sebuah kafe kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang berujung korban jiwa dan memicu perhatian serius aparat penegak hukum.
Insiden ini menambah daftar panjang konflik sosial berbasis kelompok yang berawal dari persoalan sepele namun berkembang menjadi kekerasan terbuka.
Peristiwa di Cafe Dylan tersebut juga menegaskan pentingnya pengelolaan ruang publik dan mekanisme pencegahan konflik agar tidak berujung tragedi.
Kronologi Keributan di Cafe Dylan Lembang
Keributan antar-organisasi kemasyarakatan terjadi di Cafe Dylan yang berlokasi di RT 02/04 Kampung Ciburial, Desa Cibogo, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada Selasa 20 Januari 2026 petang.
Peristiwa tersebut berlangsung sekitar pukul 18.30 WIB ketika suasana kafe tengah ramai oleh pengunjung.
Berdasarkan keterangan kepolisian, keributan melibatkan dua kelompok ormas dengan inisial P dan G.
Aparat kepolisian menyatakan bahwa konflik tersebut berujung pada satu korban meninggal dunia dan beberapa korban lainnya mengalami luka-luka dengan tingkat keparahan berbeda.
Korban meninggal dunia diketahui berinisial A berusia 45 tahun yang merupakan warga Kampung Cihiedung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat.
Selain korban meninggal, seorang pria berinisial I berusia 50 tahun dari Kampung Pamecelan, Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, dilaporkan mengalami luka berat.
Tiga korban lain yang mengalami luka ringan masing-masing berinisial A, D, dan N.
Awal Mula Konflik Antar Kelompok
Kepolisian menjelaskan bahwa keributan bermula ketika delapan orang dari ormas berinisial P sedang menggunakan fasilitas karaoke di Cafe Dylan.
Setelah waktu karaoke mereka selesai, datang empat orang dari ormas berinisial G yang meminta untuk menggunakan fasilitas yang sama secara bergantian.
Permintaan tersebut tidak diterima oleh kelompok pertama sehingga terjadi perbedaan pendapat di antara kedua belah pihak.
Situasi yang awalnya berupa adu argumen kemudian meningkat menjadi adu mulut yang memancing emosi masing-masing kelompok.
Dalam waktu singkat, cekcok verbal berubah menjadi keributan fisik yang melibatkan lebih banyak orang.
Kepolisian mencatat bahwa keributan tersebut berlangsung sekitar 30 menit sebelum situasi benar-benar berhenti.
Situasi Memburuk dan Datangnya Kelompok Tambahan
Di tengah keributan yang berlangsung, sekitar 20 orang dari ormas berinisial P datang ke lokasi kafe.
Kedatangan kelompok tambahan ini disebut bertujuan membantu rekan mereka yang terlibat cekcok.
Keributan yang semakin meluas tersebut akhirnya menyebabkan adanya korban jiwa serta beberapa korban luka-luka.
***









