KoranBandung.co.id – Operasi pencarian dan evakuasi korban longsor di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, memasuki hari ke-12 dengan fokus utama pada titik-titik yang masih berpotensi menyimpan korban tertimbun material longsor.
Upaya pencarian ini menjadi salah satu operasi kemanusiaan terbesar di wilayah Bandung Barat dalam beberapa tahun terakhir.
Intensitas kerja tim gabungan menunjukkan komitmen negara dalam memastikan seluruh korban ditemukan dan diperlakukan secara bermartabat.
Pendekatan pencarian kini tidak hanya mengandalkan tenaga manual, tetapi juga analisis lokasi berbasis evaluasi lapangan berkelanjutan.
Tim SAR gabungan bersama Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Barat tetap melanjutkan operasi meskipun menghadapi tantangan medan yang berat dan kondisi tanah yang masih labil.
Material longsor berupa tanah, bebatuan, dan puing bangunan menyebabkan proses evakuasi harus dilakukan dengan sangat hati-hati.
Setiap titik pencarian ditentukan berdasarkan hasil pemetaan ulang dan laporan lapangan dari personel yang berada di zona terdampak.
Langkah ini dilakukan untuk meminimalkan risiko keselamatan bagi petugas sekaligus memaksimalkan peluang menemukan korban.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat, Kombes Pol Hendra Rochmawan, menjelaskan bahwa hingga hari ke-12 Pos DVI telah menerima total 92 kantong jenazah dari hasil operasi SAR.
Dari jumlah tersebut, lebih dari 65 korban telah berhasil diidentifikasi dan diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan.
Proses identifikasi dilakukan secara ketat sesuai standar forensik guna memastikan keakuratan data korban.
Identifikasi ini menjadi aspek krusial untuk memberikan kepastian hukum dan kemanusiaan bagi keluarga yang terdampak.
Hendra mengungkapkan bahwa masih terdapat 25 kantong jenazah yang saat ini berada dalam proses identifikasi lanjutan.
Sebagian besar jenazah yang belum teridentifikasi mengalami kerusakan berat akibat tekanan material longsor.
Kondisi tersebut membuat tim forensik membutuhkan waktu lebih lama untuk melakukan pemeriksaan mendalam.
Setiap tahapan tetap dijalankan secara sistematis agar tidak terjadi kesalahan identifikasi.
Dalam proses pemeriksaan forensik, tim DVI menemukan fakta adanya empat kantong jenazah yang masing-masing berisi dua individu.
Temuan ini menunjukkan besarnya kekuatan longsor yang menyebabkan korban sulit dipisahkan secara fisik.
Situasi tersebut menambah kompleksitas proses identifikasi karena memerlukan pemisahan jaringan secara hati-hati.
Pendekatan ilmiah menjadi satu-satunya metode yang dapat digunakan untuk memastikan identitas masing-masing korban.
Selain itu, DVI juga memastikan satu kantong jenazah bukan berasal dari korban longsor Pasirlangu.
Kesimpulan tersebut diperoleh berdasarkan kondisi jenazah yang diperkirakan telah meninggal lebih dari satu tahun lalu.
Penemuan ini menjadi bukti bahwa tim bekerja dengan prinsip kehati-hatian dan verifikasi berlapis.
Jenazah tersebut akan ditangani sesuai prosedur terpisah di luar konteks bencana Pasirlangu.
Hendra menambahkan bahwa dari jenazah yang belum teridentifikasi, sebanyak 15 masih menjalani pemeriksaan DNA.
Pemeriksaan DNA dilakukan dengan mencocokkan sampel biologis korban dengan data keluarga yang telah dikumpulkan.
Proses ini membutuhkan waktu karena harus melalui tahapan laboratorium yang presisi.
Keakuratan hasil menjadi prioritas utama demi menghindari kesalahan fatal dalam penentuan identitas.
Sementara itu, tujuh jenazah lainnya masih berada pada tahapan pemeriksaan postmortem dan antemortem.
Pemeriksaan ini melibatkan pencocokan ciri fisik, data medis, serta barang personal yang ditemukan.
Keterlibatan keluarga korban menjadi elemen penting dalam melengkapi data antemortem.
Pendekatan kolaboratif ini memperkuat validitas proses identifikasi.
Operasi SAR di Pasirlangu tidak hanya berfokus pada pencarian korban, tetapi juga pada aspek kemanusiaan dan psikologis keluarga.
Posko terpadu tetap menyediakan layanan informasi dan pendampingan bagi keluarga yang menunggu kabar.
Transparansi informasi dijaga agar keluarga memperoleh perkembangan terbaru secara akurat.
Langkah ini dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap proses penanganan bencana.
Tim SAR gabungan menegaskan bahwa operasi akan terus dilanjutkan hingga seluruh korban berhasil ditemukan.***









