KoranBandung.co.id – Di sebuah gang sempit kawasan Babakan Ciparay, Kota Bandung, tersimpan kisah pengabdian seorang ustaz yang menjalani hidup dalam keterbatasan demi menjaga nyala pendidikan agama anak-anak.
Kisah ini mencuat ke ruang publik setelah dibagikan oleh akun Instagram @warganetbandung yang merekam keseharian Ustaz Deni di lingkungan padat penduduk tersebut.
Unggahan itu memantik empati warganet karena menampilkan kontras tajam antara perjuangan hidup sang ustaz dan ketulusan pengabdiannya pada pendidikan Al-Qur’an.
Ustaz Deni diketahui menjalani hari-harinya sebagai buruh serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu.
Ia menerima pekerjaan apa pun yang tersedia, mulai dari membantu angkut barang hingga pekerjaan kasar lain demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga.
Pendapatan yang diperoleh sering kali hanya cukup untuk makan seadanya dan membayar kebutuhan paling mendesak.
Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas itu, Ustaz Deni tetap memegang teguh komitmennya sebagai pengajar mengaji.
Setiap hari, ketika waktu mengaji tiba, ia selalu hadir membimbing puluhan anak tanpa pernah absen.
Sebanyak 85 anak dari berbagai usia datang secara rutin ke kontrakan kecil yang menjadi tempat tinggal sekaligus ruang belajar.
Ruang yang terbatas tidak menghalangi semangat anak-anak untuk belajar membaca dan memahami Al-Qur’an.
Dengan sarana seadanya, lantunan ayat suci tetap menggema dari sore hingga malam hari.
Ustaz Deni tidak pernah memungut bayaran sepeser pun dari para murid maupun orang tua mereka.
Ia meyakini bahwa pendidikan agama adalah hak setiap anak tanpa memandang kondisi ekonomi keluarga.
Prinsip tersebut ia pegang teguh meski dirinya sendiri hidup dalam keterbatasan.
Bahkan, tempat tinggal yang ia tempati sempat terancam karena tunggakan biaya kontrakan.
Kondisi itu membuat kehidupan keluarganya berada di titik yang sangat rentan.
Di balik ketenangan wajahnya saat mengajar, tersimpan pengorbanan yang jarang diketahui orang lain.
Ustaz Deni dan istrinya kerap menahan lapar demi memastikan kegiatan mengaji tetap berjalan.
Mereka memilih mengutamakan kebutuhan anak-anak dibandingkan kepentingan pribadi.
Keputusan tersebut diambil dengan kesadaran penuh akan risiko yang harus ditanggung.
Namun bagi Ustaz Deni, keberlanjutan pendidikan moral dan spiritual anak-anak jauh lebih penting.
Ia percaya bahwa apa yang ditanamkan hari ini akan menjadi bekal masa depan generasi mendatang.
***









