KoranBandung.co.id – Penemuan mayat seorang pelajar berseragam olahraga di kawasan eks wisata Kampung Gajah, Desa Cihideung, Kecamatan Parongpong, Kabupaten Bandung Barat, Jumat 13 Februari 2026, mengguncang warga sekitar.
Peristiwa tersebut pertama kali diketahui oleh sekelompok pemuda yang mendatangi area bekas objek wisata itu untuk membuat konten media sosial.
Temuan jenazah di lokasi yang sudah lama tidak beroperasi itu segera dilaporkan kepada aparat setempat dan memicu respons cepat dari tim medis serta kepolisian.
Area eks Kampung Gajah yang berada di wilayah Desa Cihideung memang dikenal sebagai lokasi terbengkalai yang kerap didatangi warga untuk berbagai aktivitas nonresmi.
Situasi mendadak berubah mencekam ketika para pemuda tersebut menemukan tubuh seorang laki-laki dalam kondisi tidak bernyawa.
Korban diketahui mengenakan seragam olahraga lengkap dan ditemukan bersama atribut topi bertuliskan identitas sekolah.
Dari identifikasi awal, korban merupakan siswa SMPN 26 Bandung berinisial ZAA.
Jenazah korban pada malam harinya langsung dievakuasi oleh tim medis dari tempat kejadian perkara menuju RS Sartika Asih yang berlokasi di Jalan Moh Toha, Kota Bandung.
Proses pengantaran jenazah dari lokasi kejadian ke rumah sakit dilakukan untuk kepentingan pemeriksaan lebih lanjut dan autopsi.
Berdasarkan laporan awal dari tim medis yang melakukan pengantaran, terdapat luka tusukan pada bagian perut korban.
Temuan luka tersebut memunculkan dugaan kuat adanya tindak kekerasan yang mengarah pada pembunuhan.
Namun demikian, kepastian penyebab kematian masih menunggu hasil autopsi resmi dari pihak rumah sakit serta keterangan lanjutan dari kepolisian.
Di tengah proses hukum yang berjalan, terungkap kisah pilu di balik kehidupan korban.
ZAA diketahui telah kehilangan ibunya sejak duduk di bangku kelas V sekolah dasar.
Ayah korban saat ini juga tengah menjalani perawatan di rumah sakit karena sakit keras.
Korban diketahui memiliki tiga saudara, terdiri dari satu laki-laki dan dua perempuan.
Lingkungan sekolah pun merasakan duka mendalam atas peristiwa tragis tersebut.
Kepala SMPN 26 Bandung, Titin Supriatin, menggambarkan peristiwa itu sebagai kehilangan besar bagi keluarga besar sekolah.
Ia mengenang almarhum sebagai pribadi yang pendiam dan tidak menonjol di kelas.***









