KoranBandung.co.id – Dugaan praktik penipuan oleh developer perumahan di wilayah Banjaran, Kabupaten Bandung, mencuat ke ruang publik setelah keluhan seorang warga viral di media sosial.
Kasus ini menjadi perhatian warganet karena menyangkut pembelian rumah yang tak kunjung terwujud meski pembayaran telah dilakukan sejak beberapa tahun lalu.
Unggahan tersebut memicu diskusi luas dan membuka kemungkinan adanya korban lain dengan kasus serupa di kawasan Bandung Raya.
Keluhan itu disampaikan melalui akun Facebook bernama Syrlaad di grup INFO BERITA BANDUNG Raya yang memiliki puluhan ribu anggota aktif.
Dalam unggahannya, ia secara tegas menuliskan kata “PENIPUAN!!!” sebagai bentuk kekecewaan terhadap developer Perumahan SundaLand yang berlokasi di Cireungit, Banjaran, Kabupaten Bandung.
“Saya beli rumah di perumahan Sunda Land dengan harga 60 juta, tapi rumah enggak ada dan uang pun gak kembali,” tulis Syrlaad dalam unggahan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa transaksi pembelian rumah tersebut telah dilakukan sejak sekitar tiga tahun lalu.
Namun hingga saat ini, rumah yang dijanjikan tidak pernah dibangun oleh pihak developer.
Lebih jauh, Syrlaad mengungkapkan bahwa dirinya telah berulang kali mendatangi pihak pengembang untuk meminta kejelasan.
“Saya sudah bolak-balik selama tiga tahun dan tidak ada solusi baik dari pihak developer,” tulisnya lagi.
Ia menuturkan bahwa setiap upaya komunikasi yang dilakukan hanya berakhir pada janji tanpa realisasi.
Bahkan, menurut pengakuannya, tidak ada kejelasan tertulis terkait progres pembangunan maupun pengembalian dana.
Alih-alih memberikan solusi, Syrlaad mengaku justru diminta untuk kembali mengeluarkan uang tambahan.
“Ada solusi malah saya lagi yang disuruh tambah bayar 40 juta lagi, dan itupun rumahnya belum ada atau masih indent,” tulisnya dalam unggahan tersebut.
Permintaan tersebut langsung ia tolak karena dinilai tidak masuk akal dan berisiko tinggi.
“Saya enggak mau, takutnya uang enggak ada lagi dan rumah juga enggak jadi,” lanjutnya.
Dalam unggahan yang sama, Syrlaad mengungkapkan bahwa kesabarannya telah habis setelah menunggu selama tiga tahun.
“Sudah selama tiga tahun saya sabar, tapi dari pihak developer tidak ada niat baik untuk menyelesaikannya,” tulisnya.
Ia pun memutuskan untuk mempublikasikan kasus ini dengan harapan mendapatkan perhatian publik dan pihak berwenang.
Syrlaad secara terbuka meminta bantuan kepada pemerintah daerah hingga tingkat provinsi.
“Saya mohon bantuannya kepada Gubernur Jawa Barat dan jajarannya, Kang Dedi Mulyadi dan Dadang Supriatna, mudah-mudahan bisa membantu saya,” tulisnya.
Ia juga mengajak warganet untuk membantu menyebarkan video dan informasi terkait kasus yang dialaminya.
“Tolong bantuannya untuk up video ini agar masalahnya bisa terselesaikan,” ujarnya dalam postingan tersebut.
Saat dihubungi dan dimintai keterangan lebih lanjut, Syrlaad mengungkapkan bahwa dirinya bukan satu-satunya korban.
Ia menyebutkan bahwa sejumlah korban lain telah menghubunginya secara langsung setelah unggahan tersebut viral.
“Nu nembe speak up ka abi nu developernya sami, nembe aya kira-kira 13 urang,” ungkapnya saat dikonfirmasi.
Pernyataan tersebut mengindikasikan sedikitnya ada sekitar 13 korban yang mengalami permasalahan dengan developer yang sama.
Selain itu, Syrlaad juga menyebut bahwa permasalahan serupa diduga terjadi pada developer perumahan lain di wilayah tersebut.
“Pami di developer lain aya oge, lumayan seer, Kang,” lanjutnya.***









